Penalaran Induktif

Penalaran Induktif

Penalaran induktif merupakan proses penalaran yang mengambil kesimpulan atau keputusan prinsipnya didasarkan pengamatan hal-hal yang bersifat khusus. Proses ini meliputi generalisasi, analogi, induktif, dan hubungan klausal.

Penalaran Induktif

Generalisasi

Generalisasi adalah suatu proses berpikir yang bertolak belakang dari sejumlah fenomena individual untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tersebut.

Contoh:

Untuk menilai satu truk beras, cukup dilakukan dengan menilai segenggam dari tiap-tiap karung beras.

Keabsahan penalaran generalisasi ini disyaratkan bahwa gejala yang diamati cukup mewakili populasi. Jumlah gejala disesuaikan dengan homogenitas dan heterogenitas gejala-gejala yang ada. Semakin heterogen gejala itu maka semakin banyak sampel yang perlu diamati. Generalisasi tidak boleh terlalu luas, generalisasi yang terlalu luas dari sejumlah kecil gejala akan mengakibatkan kesimpulan yang diperoleh kurang tepat.

Analogi

Secara umum analogi berarti membandingkan persamaan atau persesuaian dari dua benda atau hal yang berlainan. Dalam kaitannya dengan penalaran, analogi diartikan sebagai proses penalaran untuk menarik kesimpulan atas kebenaran suatu gejala berdasarkan gejala khusus lainnya yang persamaannya sangat esensial. Karena itu dalam menarik kesimpulan secara analogi hendaknya dicari persamaan yang sangat esensial, persamaan yang kurang esensial tidak menjamin ketepatan kesimpulan yang diambil.

Contoh:

Anak kera bisa diberi makanan yang sama dengan makanan manusia karena sistem pencernaannya sama.

Hubungan Klausal

Penyebab suatu peristiwa tidak selalu dapat diketahui secara langsung karena banyak peristiwa yang perlu diselidiki penyebabnya. Untuk menyelidiki penyebab suatu peristiwa maka diperlukan kemampuan berpikir klausal.

Hubungan klausal umumnya dapat berlangsung dalam tiga tipe yaitu dari sebab ke akibat, akibat ke sebab, dan dari akibat ke akibat.

  1. Sebab ke akibat
    Penalaran dari sebab ke akibat bertolak dari pengamatan terhadap sesuatu sebab yang diketahui. Dari hasil pengamatan ini ditarik kesimpulan mengenai akibat yang ditimbulkan oleh penyebab tadi. Akibat yang ditimbulkan bisa berupa akibat tunggal atau akibat kompleks. Sebuah sebab dapat pula menimbulkan akibat, akibat ini dapat pula menimbulkan akibat lainnya.
    Contoh:
    Setiap hari Marilyn Monroe selalu rutin belajar. Bahkan saat liburan pun dia selalu belajar. Tidak heran jika dia mendapat beasiswa berprestasi dari sekolahnya.
  2. Akibat ke sebab
    Penalaran dari akibat ke sebab merupakan salah satu jenis penalaran klausal. Penarikan kesimpulannya bertolak dari akibat yang sudah diketahui untuk mencari penyebab yang menimbulkan akibat tadi.
    Contoh:
    Setiap kali membaca Alex Ferguson merasakan matanya berkunang-kunang dan hampir tidak dapat membaca tulisan pada jarak jauh. Akhirnya dia pergi ke dokter mata karena merasakan penyakitnya semakin parah. Setelah diperiksa oleh dokter ternyata mata Beckham minus satu.

    Dalam contoh di atas, mata yang berkunang-kunang dan tidak dapat melihat dalam jarak jauh merupakan akibat yang telah diketahui. Untuk mengetahui penyebabnya, diperlukan penelitian yang cermat oleh ahlinya. Kenyataan bahwa mata Anton minus satu merupakan hasil penelitian terhadap penyebab terjadinya kelainan pada matanya.
    Kebenaran proses berpikir ini dapat diterima jika jalan pikiran yang melandasinya sudah cukup lengkap dan tidak dihalangi oleh faktor lain. Dalam hal ini kesimpulan-kesimpulan yang didasarkan atas takhayul tidak dapat diterima sebagai kesimpulan yang sah.
  3. Akibat ke akibat
    Penalaran dari akibat ke akibat bertolak dari suatu akibat yang diketahui kemudian dicari lagi akibat yang ditimbulkan oleh akibat tadi. Di sini tidak ada usaha meneliti penyebab dari akibat yang pertama.
    Contoh:
    Banyak soal yang tidak dapat dijawab Scholes, sehingga nilai ujiannya jelek.

    Banyak soal yang tidak terjawab merupakan sebuah akibat. Akibat itu dapat menimbulkan akibat lagi, yaitu jeleknya nilai ujian Scholes. Akibat pertama tadi tentu ada pula penyebabnya, misalnya saja Scholes tidak belajar menjelang ujian.

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang pembahasan ini, silakan baca buku atau sumber informasi yang ada di bagian referensi. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel: 
Berbagai sumber 
Gambar:
Dokumen pribadi

dimuat...
Admin
Ordinary boy (not yet a man), happy husband, and proud dad. Sering nongkrong di blog pribadinya: Blog Bang Fuji

Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Cara mengubah gaya teks di Disqus Blogger Paling Aktif
  • Untuk menulis huruf bold, silakan gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic, silakan gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline, silakan gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought, silakan gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML, silakan gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>.
    Atau silakan gunakan parse tool di bawah ini.
Buka Parse Tool Tutup Parse Tool



strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed