Selamat datang di Trigonal Media

Trigonal Translator: Penerjemah Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia

Usahatani Cabai Varietas Hot Beauty di Kabupaten Ciamis

Pembangunan pertanian masih menjadi tumpuan baik sebagai penyedia pangan bagi penduduk maupun sebagai pendukung pembangunan di sektor-sektor lainnya. Oleh karena itu pembangunan pertanian bertujuan untuk terus menerus meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani , memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, menunjang pembangunan industri, meningkatkan ekspor dan mendukung perkembangan daerah dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam.

Usahatani Cabai Varietas Hot Beauty di Kabupaten Ciamis

Berbagai usaha untuk meningkatkan produksi pertanian terus ditingkatkan antara lain dengan intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi. Dalam kebijaksanaan pembangunan pertanian di Indonesia, pembangunan pertanian tanaman hortikultura mendapat prioritas untuk dikembangkan, tanaman hortikultura dimaksud meliputi tanaman sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman obat-obatan. Pengembangan tanaman hortikultura melalui program agrobisnis dilaksanakan dengan memanfaatkan peluang dan keunggulan komparatif berupa iklim yang bervariasi, tanah yang subur, tenaga kerja yang banyak, serta bahan yang tersedia (Aneka Ilmu, 1993).

Cabai (Capsicum annum L.) merupakan salah satu tanaman sayuran yang perlu dikembangkan, mengingat permintaannya selama ini terus meluas baik untuk keperluan rumah tangga, industri obat, maupun sebagai ekspor non migas (Rukmana, 1994).

Cabai Hot Beauty merupakan jenis cabai hibrida yang termasuk dalam golongan cabai besar yang dikembangkan oleh perusahaan Hungnong CO., LTD dari Korea Utara. Jenis cabai ini mempunyai karakteristik pohonnya kuat dan mempunyai cabang yang kekar dan terus menerus tumbuh bunga serta menghasilkan cabai yang pedas dan segar.  Tanaman cabai Hot Beauty mempunyai prospek pemasaran yang baik (Tani Murni, 1995).

Di Indonesia daerah penanaman cabai tersebar di Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat (Cianjur, Bandung, Serang, Bekasi, Bogor), Jawa Tengah (Brebes, Semarang, Magelang, Rembang dan Daerah Istimewa Yogyakarta), dan Jawa Timur (Gresik, Lamongan, Tuban dan Malang).  Kawasan di luar Pulau Jawa meliputi Lampung, Sumatera Barat dan Aceh Timur.  Berdasarkan data Statistik Pertanian, produksi rata-rata cabai di Indonesia periode 1987 sampai dengan 1991 tercatat 506.430 ton per tahun. Kemampuan produktivitas rata-rata sebesar 19 sampai dengan 20,5 ton per hektar, namun produksi rata-rata ini tergolong rendah, salah satu persoalannya karena teknik budi daya yang belum sepenuhnya diterapkan (Nawangsih, 2003).

Kabupaten Ciamis merupakan salah satu sentra produksi cabai di Jawa Barat dan hasil produksinya cukup dikenal khususnya di pasar Caringin, Bandung. Produksi cabai per tahun sebanyak 960 ton dari luas areal panen 309 hektar, yang tersebar di 25 kecamatan di wilayah Kabupaten Ciamis.

Di Kabupaten Ciamis areal tanaman cabai sangat tersebar dengan produksi rata-rata per hektar masih relatif rendah yaitu 3,10 ton per hektar.  Rendahnya produktivitas tersebut antara lain karena varietas cabai yang ditanam beragam serta fluktuasi harga yang tidak menentu yaitu antara Rp. 2.500 sampai dengan Rp. 20.000 per kilogram, padahal biaya produksi untuk tanaman cabai relatif tinggi yaitu Rp. 2.000 per pohon atau Rp. 36.000.000 per hektar.

Salah satu upaya yang dilaksanakan di Kabupaten Ciamis dalam peningkatan produksi cabai adalah ditetapkannya sentra produksi yang lokasinya antara lain di Kecamatan Panjalu, Cikoneng, Panumbangan dan Cihaurbeuti, dengan varietas cabai di antaranya adalah cabai hibrida varietas hot beauty.

Usahatani cabai Hot Beauty di Kecamatan Cikoneng terdapat di Desa Budiasih, Budiharja, Gunungcupu, Margaluyu, Kujang, Cikoneng, Sukamanah, Cimari, Sukasenang, Panaragan, Sindangkasih, Gegmpalan, Sukaresik, dan Wanasigra, dengan areal penanaman seluas  9 hektar.  Petani yang melaksanakan usahatani cabai di Kecamatan Cikoneng sebanyak 29 orang (Unit Pengembangan Pertanian Kecamatan Cikoneng Kabupaten Ciamis, 2003).

Usahatani cabai Hot Beauty, sebagaimana usahatani lainnya, memerlukan sejumlah biaya dalam pelaksanaan usahatani tersebut. Besarnya biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan usahatani cabai Hot Beauty akan mempengaruhi pendapatan petani cabai Hot Beauty.

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang pembahasan ini, silakan baca buku atau sumber informasi yang ada di bagian referensi. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel: 
Berbagai sumber 
Gambar:
Dokumen pribadi

Perhatian:
1. Silakan gunakan akun Facebook jika ingin berkomentar.
2. Isi komentar adalah tanggung jawab dari penulis komentar.
3. Komentar tidak pantas akan dihapus tanpa pemberitahuan.
4. Punya pertanyaan pribadi? Kontak kami di Hubungi Kami.
5. Info mengenai privasi Anda, baca Kebijakan Privasi dan Cookie.