--> Skip to main content

Jenderal Ahmad Yani

Jenderal Ahmad Yani, atau lebih tepatnya Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, adalah seorang mantan komandan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dan salah seorang korban dari Gerakan 30 September. Berikut ulasan singkat yang berhasil Trigonal Media kumpulkan mengenai beliau.

Jendral Ahmad Yani

Biodata

Nama asli: Ahmad Yani

Nama lengkap: Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani

Tempat dan Tanggal lahir: Purworejo, 19 Juni 1922

Tempat dan Tanggal meninggal: Menteng (Jakarta Pusat), 1 Oktober 1965

Kewarganegaraan: Indonesia

Pekerjaan: Jenderal TNI Angkatan Darat

Media Sosial

Facebook: tidak ada yang resmi

Twitter: tidak ada yang resmi

Instagram: tidak ada yang resmi

Youtube: tidak ada yang resmi

Situs: tidak ada yang resmi

Biografi Singkat

Jenderal Ahmad Yani (atau sering disebut juga Achmad Yani) dilahirkan pada tanggal 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah. Ahmad adalah nama pemberian ayahnya, sedangkan Yani merupakan nama pemberian majikan ayahnya, seorang Belanda, bernama Hulstyn.

Berkat bantuan Hulstyn, Ahmad Yani dapat mengenyam pendidikan di sekolah dasar untuk anak Belanda. Pada tahun 1940, pemerintah Hindia Belanda di Indonesia mengumumkan berlakunya milisi. Ahmad Yani tergerak hatinya, ia kemudian meninggalkan sekolahnya dan mendaftarkan diri sebagai prajurit di Dinas Topografi Militer Belanda. Selama enam bulan, dia mengikuti pendidikan militer di Malang. Ia mendapatkan pangkat sersan cadangan dan ditempatkan di Bandung.

Perangko Ahmad Yani

Prangko dengan gambar Jenderal Ahmad Yani

Awal Maret 1942, pasukan Jepang mendarat di Pulau Jawa. Tentara Belanda ternyata tidak mampu melawan tentara Jepang, dan akhirnya Bogor jatuh ke tangan Jepang. Semua pasukan Belanda ditawan termasuk Ahmad Yani. Setelah beberapa bulan akhirnya ia dilepaskan.

Pada tahun 1943, dia ingin menjadi juru bahasa pada pemerintahan Jepang. Selama menjalani ujian, Yani selalu diperhatikan perwira Jepang bernama Obata. Menurut Obata, Yani lebih cocok bekerja sebagai tentara. Saran ini diterimanya, dia kemudian mengikuti pendidikan militer. Pada akhir latihan, Yani dinyatakan lulus dengan nilai terbaik. Penghargaan yang diterimanya berupa sebilah pedang samurai.

Selesai menjalankan pendidikan di Bogor, Yani ditugaskan di Magelang, dan diangkat menjadi komandan seksi. Yani sangat disegani oleh anak buahnya.

Pada tanggal 19 Agustus 1945, Jepang membubarkan semoa organisasi kemiliteran yang dibentuknya. Pada kesempatan lain, Ahmad Yani berusaha mengumpulkan anak buahnya yang telah bercerai berai, sekaligus mengumpulkan pemuda-pemuda lain. Oleh karena itu, terkumpullah kekuatan baru sebanyak satu batalion. Pada waktu Indonesia membentuk BKR, kekuatan yang dihimpun Ahmad Yani dimasukkan ke dalam BKR, yang kemudian berubah menjadi TKR.

Dalam kesatuan TKR, pasukan Yani dijadikan batalion empat. Batalion ini merupakan bagian dari Resimen 14 di bawah pimpinan Kolonel Sarbini. Yani menjabat sebagai komandan batalion. Resimen 14 berkedudukan di Magelang, dan merupakan bagian dari Divisi lima di bawah pimpinan Kolonel Sudirman yang berkedudukan di Purwokerto.

Ketika pemerintahan RI dirongrong PKI yang berpusat di Madiun, pasukan Yani ikut serta dalam penumpasan pemberontakan di sana. Demikian pula, ketika Ri menghadapi Agresi Militer Belanda II dan pemberontakan DI/TII, pasukan ini ikut dalam operasi tersebut.

Melihat kemampuan Yani, pimpinan Angkatan Darat menyekolahkan Yani di Command and General Staff College di Fort Leaventwort, Amerika Serikat pada tahun 1955. Sekembalinya dari AS, Yani diangkat sebagai asisten II di Markas Besar Angkatan Darat, dan menjadi Deputi I dengan pangkat kolonel.

Ketika timbul pemberontakan PRRI di Sumatra Barat pada tahun 1958, Ahmad Yani ditugaskan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pemberontakan itu dapat dilumpuhkannya dalam waktu yang singkat.

Selesai melaksanakan tugas di Sumatra Barat, Kolonel Ahmad Yani diangkat menjadi Deputi II. Beliau juga diberi jabatan sebagai deputi kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Indonesia bagian timur. Kariernya terus menanjak, sehingga ia diangkat menjadi KASAD pada tanggal 1 Januari 1963.

Pada saat Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani menjabat sebagai KASAD, keterlibatan PKI di bidang politik sangat besar. PKI mendesak Presiden RI agar membentuk Angkatan V, yang terdiri atas kaum buruh dan tani. Angkatan V itu harus dipersenjatai. Yani menolak saran itu, karena ia sadar bahwa buruh dan tani yang dipersenjatai pasti akan melancarkan pemberontakan. Selain itu, Yani juga menolak Nasakomisasi ABRI.

Sikap Yani menyebabkan ia dimusuhi PKI. Yani dianggap penghalang utama bagi usaha PKI untuk berkuasa di Indonesia. Maka, terjadilah peristiwa 30 September 1965. Letnan Jenderal Achmad Yani beserta beberapa perwira lainnya diculik dan dibunuh oleh PKI dengan cara yang sangat kejam.

Tempat Jendral Ahmad Yani meninggal

Tempat Jenderal Ahmad Yani ditembak

Sekarang, rumah tempat Jenderal Ahmad Yani ditembak di Jalan Lembang Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat telah menjadi Museum Sasmita Loka Ahmad Yani. Semua barang dan keadaan rumah masih sama sejak kejadian penembakan, bahkan lubang peluru di kaca rumah pun masih bisa dilihat.

Museum Sasmita Loka Ahmad Yani

Museum Sasmita Loka Ahmad Yani

Jenderal Anumerta Ahmad Yani telah tiada, tetapi jasanya kepada Negara dan bangsa selalu dikenang oleh seluruh bangsa Indonesia. Berdasarkan SK Presiden RI No. III/Koti/1965 tanggal 5 Oktober 1965, Letnan Jenderal TNI Achmad Yani ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Jenderal. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading dan Ahmad Yani gugur meninggalkan nama harum.

 

Fakta

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai Jenderal Ahmad Yani:

  • Sebelum ditembak, Jenderal Ahmad Yani sempat memukul tentara yang akan membawanya
  • Istri beliau bernama Yayu Rulia Sutowiryo Ahmad Yani
  • Beliau mempunyai 8 (delapan) orang anak

 

Kutipan Bijak

Tidak ditemukan.

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengutip artikel ini, mohon sertakan tautan hidup ke situs web atau halaman ini. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
1. Departemen Sosial RI. (1991). Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional. Jakarta: Departemen Sosial RI
2. Wikipedia. (2014). Ahmad Yani: id.wikipedia.org
Gambar:
Berbagai sumber