Dasar-Dasar Akuntansi Zakat

Dasar-Dasar Akuntansi Zakat

Akuntansi zakat adalah bingkai pemikiran dan aktivasi yang mencakup dasar-dasar akuntansi dan proses-proses operasional yang berhubungan dengan penentuan, penghitungan dan penilaian harta dan pendapatan yang wajib dizakati. Menetapkan kadar zakatnya dan pendistribusian hasilnya kepada pos-posnya sesuai dengan hukum dan dasar-dasar syariat islam.

Dasar-Dasar Akuntansi Zakat

Akuntan zakat (amil zakat)

Akuntan zakat atau amil zakat adalah seseorang yang memenuhi kelayakan baik dari segi kepribadian, intelektual, maupun kinerjanya bagi proses penghitungan zakat dan pembagiannya kepada yang berhak, serta menyampaikan keputusan-keputusan tentang hal tersebut kepada waliyul amri (pemimpin) sesuai dengan hukum-hukum dan dasar-dasar syariat islam dan dasar-dasar akuntansi yang dikenal dalam bidang zakat.

Di antara syarat yang harus terpenuhi pada diri seorang akuntan zakat adalah:

  1. Muslim, mukallaf, dan baligh
  2. Mengetahui atau mempunyai ilmu dibidang Al-Quran dan sunnah Rasullullah SAW
  3. Mempunyai tentang ilmu fiqih zakat dan dasar-dasar penghitungannya
  4. Harus terpenuhi pada dirinya sifat-sifat ikhlas, jujur amanah, mampu, iffah, dan kemuliaan
  5. Cerdas, sensitif, dan tajam perasaannya
  6. Mampu untuk mengambil keputusan

Tugas amil zakat atau akuntan zakat adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan dan membatasi orang dan harta yang tunduk kepada zakat
  2. Menentukan dan membatasi orang yang berhak menerima zakat
  3. Menghitung kadar zakat sesuai dengan hukum fikih
  4. Membagi zakat kepada pos-posnya yang syari
  5. Menyampaikan ketetapan zakat kepada waliyul amri (pemimpin)

Beberapa pemahaman akuntansi zakat

Ada beberapa pemahaman atau istilah tentang zakat yang wajib diketahui yaitu:

  1. Al-Maujudat Al-Zakawiyah
    Al-maujudat al-zakawiyah adalah jenis harta yang memenuhi syarat untuk tunduk kepada zakat sesuai dengan macam dan jenis harta.
  2. Tanggungan dan tuntutan yang harus dilunasi
    Yaitu tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi dari harta yang tunduk kepada zakat yang mengurangi jumlah harta wajib zakat, sehingga harta yang tunduk kepada zakat merupakan harta yang dimiliki oleh muzaki secara sempurna, tidak ada tanggungan hutang yang harus dilunasi.
  3. Wi’a al-zakat (tempat zakat)
    Yaitu harta bersih yabg harus dikeluarkan zakatnya, wi’a zakat ini diperoleh dari jenis harta wajib dizakati dikurangi tanggungan dan tuntutan yang harus dibayar.
  4. Nisab zakat
    Kadar jumlah harta yang mana ika wi’a zakat (harta wajib zakat setelah dikurangi semua tuntutan yang harus dibayar) sampai kepada jumlah tersebut, maka harta tersebut tuduk kepada zakat, sebaliknya jika kurang dari jumlah tersebut maka tidak wajib dikeluarkan zakatnya.
  5. Harga zakat
    Nisbah persentase harta yang dikhususkan untuk zakat. Harga zakat ini berbeda antara zakat satu dengan zakat lainnya.
  6. Jumlah zakat
    Jumlah harta yang dihitung sebagai zakat dengan cara mengalikan wi’a zakat (tempat zakat) ketika memenuhi nisab dengan harga zakat.

Asas-asas penghitungan zakat

Penghitungan zakat tunduk kepada beberapa asas yang diambil dari hukum dan dasar-dasar fiqih, yaitu:

  1. Asas tahunan
    Zakat harta dihitung ketika telah melewati dua belas bulan hijtiyah. Tahun zakat dimulai ketika harta tersebut mencapai nisab, selain zakat harta pertanian yang dihitung zakatnya pada waktu panen dan zakat rikaz yang wajib dikeluarkan zakatnya pada waktu menemukannya.
  2. Asas independensi tahun zakat
    Setiap tahun zakat independen dari tahun-tahun zakat lainnya (tahun sebelum dan sesudahnya), tidak boleh mewajibkan dua zakat atas satu jenis harta dalam tahun yang sama, sebagaimana satu jenis harta tidak boleh tunduk kepada zakat dua kali dalam setahun.
  3. Asas terealisasinya perkembangan dalam harta yang tunduk kepada zakat baik secara riil maupun prediksi dan maknawi
    Artinya harta yang tunduk kepada zakat haruslah harta yang berkembang seperti harta perdagangan dan binatang ternak atau harta tersebut dihukumi sebagai harta berkembang seperti harta tunai yang tidak diinvestasikan, yang mana jika harta tersebut diinvestasikan akan berkembang.
  4. Asas penghitungan zakat atas semua harta atau atas jumlah bersih harta sesuai dengan jenis zakat
    Misalnya zakat harta tunai dihitung atas sesuai harta dan perkembangannya sedang zakat harta mustaghalat (harta yang dimiliki untuk mendapat pemasukan) dan zakat gaji dihitung atas jumlah bersih harta setelah dikurangi pembiayaan yang harus dikeluarkan.
  5. Asas penghitungan nilai harta zakat berdasarkan nilai (harga) pasar yang berlaku pada waktu pembayaran zakat
    Misalnya harta perdagangan dihitung nilainya berdasarkan harga grosir (partai) dipasar dan zakat piutang dihitung berdasarkan nilai/jumlah yang diharapkan pelunasannya.
  6. Asas penggabungan harta-harta yang sejenis yang sama haul, nisab dan harga zakatnya
    Seperti barang perdagangan digabungkan dengan harta tunai, simpanan gaji dan pemberian.
  7. Asas pengurangan harta yang wajib dizakati oleh tuntutan dan kewajiban jangka pendek (kontan), sedang kewajiban jangka panjang yang mengurangi harta zakat adalah bagian yang harus dibayar pada tahun itu.

Yang Berhak Menerima Zakat

Orang yang berhak menerima zakat adalah berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 60 yang artinya:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.

Berdasarkan ayat tersebut, orang-orang yang berhak menerima zakat adalah:

  1. Fakir
    Yaitu orang yang tidak mempunyai barang apapun dan tidak mempunyai usaha yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  2. Miskin
    Yaitu orang yang mempunyai barang atau pekerjaan tetapi selalu kekurangan/tidak mencukupi kehidupan sehari-hari.
  3. Amil
    Panitia atau pengurus zakat
  4. Muallaf
    Yaitu orang yang baru masuk agama Islam
  5. Memerdekakan budak
    Budak yang telah dijanjikan merdeka oleh tuannya, jika sanggup dengan membayar tebusan sejumlah uang.
  6. Berhutang
    Orang yang tidak sanggup membayar hutang.
  7. Fisabilillah
    Orang yang sedang melakukan perjalanan untuk kepentingan agama atau mendekatkan diri kepada Allah SWT (mendirikan masjid, madrasah dan lain-lain)
  8. Ibnu Sabil (musafir)
    Orang yang terlantar dalam perjalanan atau kehabisan bekal

Fungsi zakat

Ada dua fungsi zakat, pertama terhadap yang berzakat dan kedua bagi sosial kemasyarakatan. Berikut ini adalah penjelasannya:

a. Bagi yang berzakat, fungsi zakat adalah sebagai berikut:

  • Melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dan sebagai tanda ucapan syukur kepada Allah SWT.
  • Mensucikan harta yang diamanahkan Allah SWT.
  • Menghilangkan sifat kikir dan tamak.

b. Bagi sosial kemasyarakatan, fungsi zakat meliputi:

  • Meringankan hidup bagi fakir dan miskin.
  • Menumbuhkan sikap persaudaraan antar muslim.
  • Memberi ketenteraman bagi orang-orang yang baru memeluk agama islam.
  • Menunjang suksesnya pembangunan sarana umat islam
  • Mengurangi kejahatan dalam masyarakat.
  • Meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Itulah penjelasan mengenai Dasar-Dasar Akuntansi Zakat yang berhasil Bang Fuji rangkumkan. Jika Anda memiliki saran, koreksi, pertanyaan, atau tambahan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih.

Artikel ini dibuat dengan berbagai keterbatasan ilmu, tetapi penulis berusaha membuatnya seakurat dan sesempurna mungkin. Jika terdapat kesalahan di dalamnya, itu murni kesalahan penulis dan apabila benar, itu adalah karena rahmat Allah SWT. Untuk itu, koreksi dan saran sangat penulis harapkan.

Jika Anda merasa terbantu oleh artikel ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan supaya Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan dunia akhirat kepada Bang Fuji sekeluarga. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
1. DR. Hasyan, Syahatah. 2004. Akuntansi Zakat. Jakarta: Pustaka Progresif
2. ____. 1997/1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 
Gambar:
Dokumen pribadi

Admin
Salah satu admin di Trigonal Media. Sering nongkrong di media sosial berikut:

memuat...
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Cara mengubah gaya teks di Disqus Blogger Paling Aktif
  • Untuk menulis huruf bold, silakan gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic, silakan gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline, silakan gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought, silakan gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML, silakan gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>.
    Atau silakan gunakan parse tool di bawah ini.
Buka Parse Tool Tutup Parse Tool



strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed