Kekayaan yang Wajib Zakat

Kekayaan yang Wajib Zakat

Quran tidak memberikan ketegasan tentang jenis kekayaan yang wajib zakat, dan syarat-syarat apa yang mesti dipenuhi, dan berapa besar yang harus dizakatkan.  Persoalan tersebut diserahkan kepada Sunnah Nabi. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai kekayaan yang wajib zakat.

Kekayaan yang Wajib Zakat

Memang terdapat beberapa jenis kekayaan yang disebutkan Quran, seperti emas dan perak (QS 9:34), tanaman dan buah-buahan (QS 6:141), penghasilan dari usaha yang baik (QS 2:267), dan barang tambang (2:267).

Namun demikian, Quran hanya merumuskannya dengan rumusan yang umum yaitu "kekayaan".

"Pungutlah olehmu zakat dari kekayaan mereka,....."  (QS 9:103)

Untuk lebih memperjelas, definisi menurut Yusuf Al-Qaradhawy yaitu kekayaan hanya bisa disebut kekayaan apabila memenuhi dua syarat yaitu dipunyai dan bisa diambil manfaatnya.

Syarat kekayaan wajib zakat

Terdapat 6 syarat untuk suatu kekayaan terkena wajib zakat, yaitu:

1. Milik Penuh

Kekayaan pada dasarnya adalah milik Allah.  Yang dimaksud pemilikan di sini hanyalah penyimpanan, pemakaian, dan pemberian wewenang yang diberikan Allah kepada manusia, sehingga seseorang lebih berhak menggunakan dan mengambil manfaatnya daripada orang lain.

Istilah "milik penuh" maksudnya adalah bahwa kekayaan itu harus berada di bawah kontrol dan di dalam kekuasaannya.  Dengan kata lain, kekayaan itu harus berada di tangannya, tidak tersangkut di dalamnya hak orang lain, dapat ia pergunakan dan faedahnya dapat dinikmatinya.

Konsekuensi dari syarat ini tidak wajib zakat bagi:

  • Kekayaan yang tidak mempunyai pemilik tertentu
  • Tanah waqaf dan sejenisnya
  • Harta haram.  Karena sesungguhnya harta tersebut tidak syah menjadi milik seseorang
  • Harta pinjaman.  Dalam hal ini wajib zakat lebih dekat kepada sang pemberi hutang (kecuali bila hutang tsb tidak diharapkan kembali).  Bagi orang yang meminjam dapat dikenakan kewajiban zakat apabila dia tidak mau atau mengundur-undurkan pembayaran dari harta tersebut, sementara dia terus mengambil manfaat dari harta tersebut.  Dengan kata lain orang yang meminjam telah memperlakukan dirinya sebagai "si pemilik penuh".
  • Simpanan pegawai yang dipegang pemerintah (seperti dana pensiun).  Harta ini baru akan menjadi milik penuh di masa yang akan datang, sehingga baru terhitung wajib zakat pada saat itu.

2. Berkembang

Pengertian berkembang yaitu harta tsb senantiasa bertambah baik secara konkret (ternak dan lain-lain) dan tidak secara konkret (yang berpotensi berkembang, seperti uang apabila diinvestasikan).

Nabi tidak mewajibkan zakat atas kekayaan yang dimiliki untuk kepentingan pribadi seperti rumah kediaman, perkakas kerja, perabot rumah tangga, binatang penarik, dll.  Karena semuanya tidak termasuk kekayaan yang berkembang atau mempunyai potensi untuk berkembang.

Dengan alasan ini pula, disepakati bahwa hasil pertanian dan buah-buahan tidak dikeluarkan zakatnya berkali-kali walaupun telah disimpan bertahun-tahun.

Karena syarat ini, maka jenis harta yang wajib zakat tidak terbatas pada apa yang sering diungkapkan sebagian ulama yaitu hanya 8 jenis harta (unta, lembu, kambing, gandum, biji gandum, kurma, emas, dan perak). Semua kekayaan yang berkembang merupakan subjek zakat.

3. Cukup Senisab

Disyaratkannya nisab memungkinkan orang yang mengeluarkan zakat sudah terlebih dahulu berada dalam kondisi berkecukupan. Tidaklah mungkin syariat membebani zakat pada orang yang mempunyai sedikit harta sedangkan dia sendiri masih sangat membutuhkan harta tersebut.

Dengan demikian, pendapat yang mengatakan hasil pertanian tidak ada nisabnya menjadi tertolak.

4. Lebih dari Kebutuhan Biasa

Kebutuhan adalah merupakan persoalan pribadi yang tidak bisa dijadikan patokan besar-kecilnya.  Adapun sesuatu kelebihan dari kebutuhan itu adalah bagian harta yang bisa ditawarkan atau diinvestasikan yang dengan itulah pertumbuhan/perkembangan harta dapat terjadi.

Kebutuhan harus dibedakan dengan keinginan.  Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan rutin, yaitu sesuatu yang betul-betul diperlukan untuk kelestarian hidup, seperti halnya belanja sehari-hari, rumah kediaman, pakaian, senjata untuk mempertahankan diri, peralatan kerja, perabotan rumah tangga, hewan tunggangan, dan buku-buku ilmu pengetahuan untuk kepentingan keluarga (karena kebodohan dapat berarti kehancuran).

Kebutuhan ini berbeda-beda dengan berubahnya zaman, situasi dan kondisi, juga besarnya tanggungan dalam keluarga yang berbeda-beda.  Persoalan ini sebaiknya diserahkan kepada penilaian para ahli dan ketetapan yang berwewenang.

Zakat dikenakan bila harta telah lebih dari kebutuhan rutin.  Sesuai dengan ayat 2:219 ("sesuatu yang lebih dari kebutuhan...") dan juga hadits "zakat hanya dibebankan ke atas pundak orang kaya", dan hadits-hadits lainnya.

5. Bebas dari Hutang

Pemilikan sempurna yang dijadikan persyaratan wajib zakat haruslah lebih dari kebutuhan primer, dan cukup pula senisab yang sudah bebas dari hutang.  Bila jumlah hutang akan mengurangi harta menjadi kurang senisab, maka zakat tidaklah wajib.

Jumhur ulama berpendapat bahwa hutang merupakan penghalang wajib zakat.  Namun apabila hutang itu ditangguhkan pembayarannya (tidak harus sekarang juga dibayarkan), maka tidaklah lepas wajib zakat (seperti halnya hutang karena mengkredit sesuatu).

6. Berlalu Setahun

Maksudnya bahwa pemilikan yang berada di tangan si pemilik sudah berlalu masanya dua belas bulan Qomariyah.  Menurut Yusuf Al-Qaradhawy, persyaratan setahun ini hanyalah  buat barang yang dapat dimasukkan ke dalam istilah "zakat modal", seperti: ternak, uang, harta benda dagang, dan lain-lain.

Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan, madu, logam mulia (barang tambang), harta karun, dan sebagainya, yang sejenis semuanya termasuk ke dalam istilah "zakat pendapatan" dan tidak dipersyaratkan satu tahun (maksudnya harus dikeluarkan ketika diperoleh).

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para sahabat dan tabi'in mengenai persyaratan "berlalu setahun" ini.  Ada pendapat yang mengatakan bahwa zakat wajib dikeluarkan begitu diperoleh bila sampai senisab, baik karena sendiri maupun karena tambahan dari yang sudah ada, tanpa mempersyaratkan satu tahun.  Perbedaan ini  dikarenakan "tidak adanya satu hadits yang tegas" mengenai persyaratan ini.

Namun demikian sesuatu yang tidak diperselisihkan sejak dulu adalah bahwa zakat kekayaan yang termasuk zakat modal di atas hanya diwajibkan satu kali dalam setahun.

Itulah penjelasan mengenai Kekayaan yang Wajib Zakat yang berhasil Bang Fuji rangkumkan. Jika Anda memiliki saran, koreksi, pertanyaan, atau tambahan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih.

Artikel ini dibuat dengan berbagai keterbatasan ilmu, tetapi penulis berusaha membuatnya seakurat dan sesempurna mungkin. Jika terdapat kesalahan di dalamnya, itu murni kesalahan penulis dan apabila benar, itu adalah karena rahmat Allah SWT. Untuk itu, koreksi dan saran sangat penulis harapkan.

Jika Anda merasa terbantu oleh artikel ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan supaya Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan dunia akhirat kepada Bang Fuji sekeluarga. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
Kitab Fikih Zakat karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawy, yang disarikan oleh Lukman Mohammad Baga 
Gambar:
Dokumen pribadi

Admin
Salah satu admin di Trigonal Media. Sering nongkrong di media sosial berikut:

memuat...
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Cara mengubah gaya teks di Disqus Blogger Paling Aktif
  • Untuk menulis huruf bold, silakan gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic, silakan gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline, silakan gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought, silakan gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML, silakan gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>.
    Atau silakan gunakan parse tool di bawah ini.
Buka Parse Tool Tutup Parse Tool



strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed