Mengapa Kita Berbuat Maksiat?

Mengapa Kita Berbuat Maksiat?

Di satu sisi, manusia adalah makhluk yang dilebihkan dan dimuliakan oleh Allah SWT, namun di sisi lain, manusia sendirilah yang menjatuhkan dirinya dalam jurang kehinaan, yaitu dengan mengikuti hawa nafsunya. Hawa nafsu yang tidak terkendali akan menghasilkan perbuatan maksiat, yang tentu saja akan merugikan manusia itu sendiri.

Mengapa Kita Berbuat Maksiat?

Kecenderungan berbuat maksiat sudah tertanam dalam jiwa manusia sejak dilahirkan ke alam dunia ini. Berbuat kerusakan merupakan kebiasaan bagi pengikut sifat negatif ini, dan nilai-nilai amal saleh sama sekali jauh darinya.

Patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? patutkah (pula) kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma'siat? (QS. Shaad: 28)

Untuk mengetahui mengapa manusia cenderung berbuat maksiat, berikut ini adalah penyebabnya:

a. Hati yang keras

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al-Baqarah: 7)

Kerasnya hati melebihi kerasnya batu, demikian ayat 7 surat Al-Baqarah menjelaskan. Karena kerasnya hati inilah seluruh nasehat, ajakan, dan peringatan yang bersumber dari Allah SWT dan Rasul-Nya tidak akan pernah membekas dalam pola kehidupannya.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang Telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Az-Zumar: 22)

Hakikatnya, fatwa ceramah atau pengajian adalah ibarat cambuk yang dapat mencambuk hati kita ketika lalai sehingga menggiring seseorang untuk selalu mengendalikan hawa nafsunya dengan baik. Namun semua itu akan percuma jika hati telah keras membatu dan berlumuran dosa serta kemaksiatan.

Berbeda halnya dengan yang mempunyai kesadaran tinggi dan benar-benar dalam keadaan lapang serta terlepas dan bayang-bayang duniawi, maka nasihat akan menjadi panah hatinya sehingga meneteskan air mata, dan pengajian tersebut akan menjadi penguji diri sampai mana berbakti kepada yang Maha Suci.

b. Kaku tabiat atau karakter buruk

Orang yang kaku tabiatnya adalah orang yang rakus dan kikir dengan kebaikan. Karena itulah, seseorang sulit terbuka hatinya untuk menerima panggilan surga dan sangat mudah menerima seruan neraka. Akhirnya, semakin jauhlah hubungan dengan Allah SWT.

Lebih jauh lagi, karakter ini bukannya mensyukuri nikmat dan karunia Allah, akan tetapi, semakin tenggelam kesehariannya dalam kemewahan semu dunia. Padahal, dengan memikirkan dan merenungkan nikmat dan karunia Allah itu, hati akan bergerak hidup.

c. Kesombongan

Seorang yang memiliki kesombongan akan senantiasa merasa dirinya hebat di hadapan Allah SWT. Padahal Allah sangat membenci sifat sombong ini walaupun hanya seberat dzarah (debu). Merasa paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain, ini pun merupakan ‘anak-anaknya’ kesombongan.

Singkatnya, ketiga sifat tercela inilah yang menguatkan dan membangkitkan manusia agar senantiasa berbuat maksiat. Alangkah berat dan besarnya akibat mengikuti sifat-sifat negatif tersebut. Sehingga Rasulullah SAW tak segan-segannya mengategorikan mereka sebagai ahli neraka.

Seorang penyair mengungkapkan:

Jika engkau sendirian dengan kebimbangan dalam gelap, sedangkan hawa nafsumu mengajak bertaubat maksiat, hendaklah engkau merasa malu dari pandangan Rabb-mu, dan katakan kepada hawa nafsumu: “Sesungguhnya Dzat Yang Menciptakan gelap ini melihatku".

Itulah penjelasan mengenai Mengapa Kita Berbuat Maksiat? yang berhasil Bang Fuji rangkumkan. Jika Anda memiliki saran, koreksi, pertanyaan, atau tambahan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih.

Artikel ini dibuat dengan berbagai keterbatasan ilmu, tetapi penulis berusaha membuatnya seakurat dan sesempurna mungkin. Jika terdapat kesalahan di dalamnya, itu murni kesalahan penulis dan apabila benar, itu adalah karena rahmat Allah SWT. Untuk itu, koreksi dan saran sangat penulis harapkan.

Jika Anda merasa terbantu oleh artikel ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan supaya Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan dunia akhirat kepada Bang Fuji sekeluarga. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
Berbagai sumber 
Gambar:
Dokumen pribadi

Admin
Salah satu admin di Trigonal Media. Sering nongkrong di media sosial berikut:

memuat...
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Cara mengubah gaya teks di Disqus Blogger Paling Aktif
  • Untuk menulis huruf bold, silakan gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic, silakan gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline, silakan gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought, silakan gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML, silakan gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>.
    Atau silakan gunakan parse tool di bawah ini.
Buka Parse Tool Tutup Parse Tool



strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed