Zakat dan Kedudukannya Dalam Islam

Zakat dan Kedudukannya Dalam Islam

Zakat adalah suatu sistem yang belum pernah ada pada agama-agama samawi juga dalam peraturan-peraturan manusia.  Zakat mencakup sistem keuangan, ekonomi, sosial, politik, moral dan agama sekaligus. Oleh sebab itulah, maka umat Islam harus melaksanakan zakat dengan penuh keikhlasan.

Zakat dan Kedudukannya Dalam Islam

Peringatan keras terhadap orang yang tidak membayar zakat tidak hanya berupa hukuman yang sangat pedih di akhirat juga terdapat hukuman di dunia. Seperti tertulis dalam:

Surat At-Taubah ayat 34-35

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu".

Surat Ali-Imron ayat 180

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sedangkan hadits shahih menjelaskan bahwa:

  • Orang yang tidak mengeluarkan zakat akan ditimpa kelaparan dan kemarau panjang
  • Bila zakat bercampur dengan kekayaan lain, maka kekayaan itu akan binasa
  • Pembangkang zakat dapat dihukum dengan denda bahkan dapat diperangi dan dibunuh.
  • Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar ketika setelah Rasulullah wafat karena banyak suku Arab yang membangkang tidak mau membayar zakat dan hanya mau mengerjakan sholat.

Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara zakat dalam Islam dengan zakat dalam agama-agama lain menurut pengamatan Yusuf Al-Qaradhawy sebagai berikut:

  1. Zakat dalam Islam bukan sekedar suatu kebajikan yang tidak mengikat, tapi merupakan salah satu komponen Islam yang utama dan mutlak harus dilaksanakan.
  2. Zakat dalam Islam adalah hak fakir miskin yang tersimpan dalam kekayaan orang kaya. Hak itu ditetapkan oleh pemilik kekayaan yang sebenarnya, yaitu Allah SWT.
  3. Zakat merupakan "kewajiban yang sudah ditentukan" yang oleh agama sudah ditetapkan nisab, besar, batas-batas, syarat-syarat waktu dan cara pembayarannya.
  4. Kewajiban ini tidak diserahkan saja kepada kesediaan manusia, tetapi harus dipikul tanggungjawab memungutnya dan mendistribusikannya oleh pemerintah.
  5. Negara berwenang menghukum siapa saja yang tidak membayar kewajibannya, baik berupa denda, dan dapat dinyatakan perang atau dibunuh.
  6. Bila negara lalai menjalankan atau masyarakat segan melakukannya, maka bagaimanapun zakat bagi seorang Muslim adalah ibadat untuk mendekatkan diri kepada Allah serta membersihkan diri dan kekayaannya.
  7. Penggunaan zakat tidak diserahkan kepada penguasa atau pemuka agama (seperti dalam agama Yahudi), tetapi harus dikeluarkan sesuai dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan Al Quran.  Pengalaman menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah memungutnya tetapi adalah masalah pendistribusiannya.
  8. Zakat bukan sekedar bantuan sewaktu-waktu kepada orang miskin untuk meringankan penderitaannya, tapi bertujuan untuk menanggulangi kemiskinan, agar orang miskin menjadi berkecukupan selama-lamanya, mencari pangkal penyebab kemiskinan itu dan mengusahakan agar orang miskin itu mampu memperbaiki sendiri kehidupan mereka.  
  9. Berdasarkan sasaran-sasaran pengeluaran yang ditegaskan Quran dan Sunnah, zakat juga mencakup tujuan spiritual, moral, sosial, dan politik. Zakat sendiri dikeluarkan untuk orang-orang mualaf, budak-budak, orang yang berhutang, dan yang sedang berjuang di jalan Allah, dan dengan demikian lebih luas dan lebih jauh jangkauannya daripada zakat dalam agama-agama lain.

Zakat bukan bertujuan sekedar untuk memenuhi baitul maal dan menolong orang yang lemah dari kejatuhan yang semakin parah.  Tapi tujuan utamanya adalah agar manusia lebih tinggi nilainya daripada harta, sehingga manusia menjadi tuannya harta bukan menjadikan budaknya.  Dengan demikian, kepentingan tujuan zakat terhadap si pemberi sama dengan kepentingannya terhadap si penerima.

Tujuan dan dampak zakat bagi Muzaki

1. Zakat mensucikan jiwa dari sifat kikir

Zakat yang dikeluarkan karena ketaatan pada Allah akan mensucikannya jiwa (9:103) dari segala kotoran dan dosa, dan terutama kotornya sifat kikir.

Penyakit kikir ini telah menjadi tabiat manusia (QS. 17:100; 70:19), yang juga diperingatkan Rasulullah SAW sebagai penyakit yang dapat merusak manusia (HR Thabrani), dan penyakit yang dapat memutuskan tali persaudaraan (HR Abu Daud dan Nasai).  Sehingga alangkah berbahagianya orang yang bisa menghilangkan kekikiran.  "Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. 59:9; 64:16).

Zakat yang mensucikan dari sifat kikir ditentukan oleh kemurahannya dan kegembiraan ketika mengeluarkan harta semata karena Allah.  Zakat yang mensucikan jiwa juga berfungsi membebaskan jiwa manusia dari ketergantungan dan ketundukan terhadap harta benda dan dari kecelakaan menyembah harta.

2. Zakat mendidik berinfak dan memberi

Berinfak dan memberi adalah suatu akhlaq yang sangat dipuji dalam Al Qur'an, yang selalu dikaitkan dengan keimanan dan ketaqwaan (QS. 2:1-3; 42:36-38; 3:134; 3:17; 51:15-19; 92:1-21)

Orang yang terdidik untuk siap menginfakkan harta sebagai bukti kasih sayang kepada saudaranya dalam rangka kemaslahatan ummat, tentunya akan sangat jauh sekali dari keinginan mengambil harta orang lain dengan merampas dan mencuri (juga korupsi).

3. Berakhlaq dengan Akhlaq Allah

Apabila manusia telah suci dari kikir dan bakhil, dan sudah siap memberi dan berinfak, maka ia telah mendekatkan akhlaqnya dengan Akhlaq Allah yang Maha Pengash, Maha Penyayang dan Maha Pemberi.

4. Zakat merupakan manifestasi syukur atas Nikmat Allah

5. Zakat mengobati hati dari cinta dunia

Tenggelam kepada kecintaan dunia dapat memalingkan jiwa dari kecintaan kepada Allah dan ketakutan kepada akhirat. Syariat Islam memutuskan lingkaran tersebut dengan mewajibkan zakat, sehingga terhalanglah nafsu dari lingkaran setan itu.  Bila Allah mengaruniai harta dengan disertai ujian/fitnah (QS. 21:35; 64:15; 89:15) maka, zakat melatih si Muslim untuk menandingi fitnah harta dan fitnah dunia tsb.

6. Zakat mengembangkan kekayaan batin

Pengamalan zakat mendorong manusia untuk menghilangkan egoisme, menghilangkan kelemahan jiwanya, sebaliknya menimbulkan jiwa besar dan menyuburkan perasaan optimisme.

7. Zakat menarik rasa simpati/cinta

Zakat akan menimbulkan rasa cinta kasih orang-orang yang lemah dan miskin kepada orang yang kaya.  Zakat melunturkan rasa iri dengki pada si miskin yang dapat mengancam si kaya dengan munculnya rasa simpati dan doa ikhlas si miskin atas si kaya.

8. Zakat mensucikan harta dari bercampurnya dengan hak orang lain

Akan tetapi zakat tidak bisa mensucikan harta yang diperoleh dengan jalan haram.

9. Zakat mengembangkan dan memberkahkan harta

Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda (QS. 34:39; 2:268; dll), sehingga tidak ada rasa khawatir bahwa harta akan berkurang dengan zakat.

Tujuan dan dampak zakat bagi Mustahik Zakat

1. Zakat akan membebaskan si penerima dari kebutuhan, sehingga dapat merasa hidup tentram dan dapat meningkatkan khusyu ibadat kepada Tuhannya.

Sesungguhnya Islam membenci kefakiran dan menghendaki manusia meningkat dari memikirkan kebutuhan materi saja kepada sesuatu yang lebih besar dan lebih pantas akan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia sebagai khalifah Allah di muka bumi.

2. Zakat menghilangkan sifat dengki dan benci.

Sifat hasad dan dengki akan menghancurkan keseimbangan pribadi, jasmani dan rohani seseorang.  Sifat ini akan melemahkan bahkan memandulkan produktivitas.  Islam tidak memerangi penyakit ini dengan semata-mata nasihat dan petunjuk, akan tetapi mencoba mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat, dan menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain. 

Tujuan dan dampak zakat bagi masyarakat

Zakat didasarkan pada delapan asnafnya yang disebutkan dalam QS 9:60 memperjelas kedudukan dan fungsinya dalam masyarakat, yaitu terkait dengan:

  1. Tanggung jawab sosial (dalam hal penanggulangan kemiskinan, pemenuhan kebutuhan fisik minimum (KFM), penyediaan lapangan kerja dan juga asuransi sosial (dalam hal adanya bencana alam dll).
  2. Perekonomian, yaitu dengan mengalihkan harta yang tersimpan dan tidak produktif menjadi beredar dan produktif di kalangan masyarakat.  Misalnya halnya harta anak yatim; "Usahakanlah harta anak yatim itu sehingga tidak habis oleh zakat" (Hadits).
  3. Tegaknya jiwa ummat, yaitu melalui tiga prinsip :
    a.    Menyempurnakan kemerdekaan setiap individu (fi riqob)
    b.    Membangkitkan semangat beramal saleh yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
    c.    Memelihara dan mempertahankan akidah (fi sabilillah)

Beberapa problematika masyarakat yang disorot oleh Yusuf Al-Qaradhawy, zakat seharusnya dapat banyak berperan adalah sebagai berikut:

1. Problematika Perbedaan Kaya-Miskin

Zakat bertujuan untuk meluaskan kaidah pemilikan dan memperbanyak jumlah pemilik harta.

Supaya harta itu jangan hanya berputar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (QS 59:7)

Islam mengakui adanya perbedaan pemilikan berdasarkan perbedaan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki manusia. Namun Islam tidak menghendaki adanya jurang perbedaan yang semakin lebar, sebaliknya Islam mengatur agar perbedaan yang ada mengantarkan masyarakat dalam kehidupan yang harmonis, yang kaya membantu yang miskin dari segi harta, yang miskin membantu yang kaya dari segi lainnya.

2. Problematika Meminta-minta

Islam mendidik ummatnya untuk tidak meminta-minta, karena hal ini akan menjadi sesuatu yang haram apabila si peminta dalam kondisi berkecukupan (ukuran cukup menurut hadits adalah mencukupi untuk makan pagi dan sore).

Disisi lain Islam berusaha mengobati orang yang meminta karena kebutuhan yang mendesak, yaitu dengan dua cara:

  • menyediakan lapangan pekerjaan, alat, dan pengembangan keterampilan bagi orang yang mampu bekerja.
  • jaminan kehidupan bagi orang yang tidak sanggup bekerja.

3. Problematika Dengki dan Rusaknya Hubungan dengan Sesama

Persaudaraan adalah tujuan Islam yang asasi, dan setiap ada sengketa hendaknya ada yang berusaha mendamaikan.

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. 49: 9)

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. 49: 10)

Rintangan dana dalam proses pendamaian tersebut seharusnya dapat dibayarkan melalui zakat, sehingga orang yang tidak kaya pun dapat berinisiatif sebagai juru damai.

4. Problematika Bencana

Orang kaya pun suatu saat bisa menjadi fakir karena adanya bencana.  Islam melalui mekanisme zakat seharusnya memberikan pengamanan bagi ummat yang terkena bencana (sistem asuransi Islam), sehingga mereka dapat kembali pada suatu tingkat kehidupan yang layak.

5. Problematika Membujang

Banyak orang membujang dikarenakan ketidakmampuan dalam hal harta untuk menikah.  Islam menganjurkan ummatnya menikah yang juga merupakan benteng kesucian.  Mekanisme zakat dapat berperan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

6. Problematika Pengungsi

Rumah tempat berteduh juga merupakan kebutuhan primer di samping makanan dan pakaian.  Zakat seharusnya menjadi unsur penolong pertama dalam menangani masalah pengungsi ini.

Itulah penjelasan mengenai Zakat dan Kedudukannya Dalam Islam yang berhasil Bang Fuji rangkumkan. Jika Anda memiliki saran, koreksi, pertanyaan, atau tambahan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih.

Artikel ini dibuat dengan berbagai keterbatasan ilmu, tetapi penulis berusaha membuatnya seakurat dan sesempurna mungkin. Jika terdapat kesalahan di dalamnya, itu murni kesalahan penulis dan apabila benar, itu adalah karena rahmat Allah SWT. Untuk itu, koreksi dan saran sangat penulis harapkan.

Jika Anda merasa terbantu oleh artikel ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan supaya Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan dunia akhirat kepada Bang Fuji sekeluarga. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
Kitab Fikih Zakat karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawy, yang disarikan oleh Lukman Mohammad Baga 
Gambar:
Dokumen pribadi

Admin
Salah satu admin di Trigonal Media. Sering nongkrong di media sosial berikut:

memuat...
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Cara mengubah gaya teks di Disqus Blogger Paling Aktif
  • Untuk menulis huruf bold, silakan gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic, silakan gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline, silakan gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought, silakan gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML, silakan gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>.
    Atau silakan gunakan parse tool di bawah ini.
Buka Parse Tool Tutup Parse Tool



strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed