Zakat Pencarian dan Profesi

Zakat Pencarian dan Profesi

Perbedaan pendapat di antara para ulama, dalam hal mewajibkan zakat terhadap harta pencarian dan profesi ini sudah berlangsung sejak lama. Adapun beberapa ulama modern saat ini, menganggap bahwa upaya menemukan hukum pasti atas zakat harta jenis ini adalah sangat mendesak, karena inilah jenis penghasilan yang paling banyak dijumpai saat ini. Jika tidak, maka kita telah melepaskan kebanyakan orang dari kewajiban zakat yang telah dinyatakan jelas kewajibannya secara umum dalam Al Quran dan Sunnah. Berikut adalah penjelasan mengenai zakat pencarian dan profesi.

Zakat Pencarian dan Profesi

Pandangan Fikih tentang Zakat Pencarian dan Profesi

Zakat harta pencarian dan profesi memang tidak ditemukan contohnya dalam hadits, namun dengan menggunakan kaidah ushul fikih, maka harta pencarian dan profesi digolongkan kepada "harta penghasilan", yaitu kekayaan yang diperoleh seseorang Muslim melalui bentuk usaha baru yang sesuai dengan syariat agama.

Harta penghasilan itu sendiri dapat dibedakan menjadi:

  1. Penghasilan yang berkembang dari kekayaan lain, misalnya uang hasil menjual poduksi pertanian yang sudah dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% yang tentunya uang hasil penjualan tersebut tidak perlu dizakatkan pada tahun yang sama karena kekayaan asalnya (produksi pertanian tersebut) sudah dizakatkan. Ini untuk mencegah terjadinya apa yang disebut zakat ganda.
  2. Penghasilan yang berasal karena penyebab bebas, seperti gaji, upah, honor, investasi modal, dan lain-lain. Karena harta yang diterima ini belum pernah sekalipun dizakatkan, dan mungkin tidak akan pernah sama sekali bila harus menunggu setahun dulu.

Perbedaan yang mencolok dalam pandangan fikih tentang harta penghasilan ini, terutama berkaitan dengan adanya konsep "berlaku setahun" yang dianggap sebagai salah satu syarat dari harta yang wajib zakat.

Sebagian pendapat mengungkapkan syarat ini berlaku untuk semua jenis harta, tapi sebagian lainnya mengungkapkan syarat ini tidak berlaku untuk seluruh jenis harta, terutama tidak berlaku untuk jenis harta penghasilan.  Selama diberlakukan ketentuan berlaku setahun untuk jenis harta penghasilan, maka akan sulit untuk melaksanakan kewajiban zakat untuk harta penghasilan ini.

Kelompok terakhir ini berpendapat, bahwa zakat penghasilan ini wajib dikeluarkan zakatnya langsung ketika diterima tanpa menunggu waktu satu tahun. Di antara kelompok terakhir ini adalah: Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Muawiyyah, dan juga Umar bin Abdul Aziz.

Untuk melihat masalah ini dengan lebih baik, maka Yusuf Al-Qaradhawy menelaah kembali hadits-hadits tentang ketentuan setahun ini, akhirnya dijumpai ketentuan tersebut ditetapkan berdasar hadits dari empat sahabat, yaitu: Ali, Ibnu Umar, Anas, dan Aisyah ra.  Di antaranya berbunyi sebagai berikut:

Hadits dari Ali ra. dari Nabi SAW: “Bila engkau mempunyai 200 dirham dan sudah mencapai waktu setahun, maka zakatnya adalah 5 dirham,...... “

Hadits dari Aisyah ra, Rasulullah pernah bersabda : “Tidak ada zakat pada suatu harta sampai lewat setahun”.

Tetapi ternyata hadits-hadits itu mempunyai kelemahan dalam sanadnya sehingga tidak bisa untuk dijadikan landasan hukum yang kuat (hadits shahih), apalagi untuk dikenakan pada jenis "harta penghasilan" karena akan bentrok dengan apa yang pernah dilakukan oleh beberapa sahabat.  Adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat tentang persyaratan setahun untuk zakat penghasilan, juga mendukung ketidak shahihan hadits-hadits tersebut.

Bila benar hadits-hadits tersebut berasal dari Nabi SAW, maka tentulah pengertian yang dapat diterima adalah : "harta benda yang sudah dikeluarkan zakatnya tidak wajib lagi zakat sampai setahun berikutnya".

Beberapa riwayat sahabat seperti Ibnu Mas'ud, menceritakan bagaimana harta penghasilan langsung dikeluarkan zakatnya ketika diterima tanpa menunggu setahun. Sehingga menjadi semakin jelas, bahwa masa setahun tidak merupakan syarat, tetapi hanya merupakan tempo antara dua pengeluaran zakat.

Setelah mengadakan studi perbandingan dan penelitian yang mendalam terhadap nash-nash yang berhubungan dengan status zakat untuk bermacam-macam jenis kekayaan, juga dengan memperhatikan hikmah dan maksud PEMBUAT SYARIAT yang telah mewajibkan zakat, dan diperhatikan pula kebutuhan Islam dan ummat Islam pada masa sekarang ini, maka Yusuf Al-Qaradhawy berpendapat bahwa harta hasil usaha seperti: gaji pegawai, upah karyawan, pendapatan dokter, insinyur, advokat, penjahit, seniman, dan sebagainya wajib terkena zakat dan dikeluarkan zakatnya pada waktu diterima.

Sebagai penjelasan dari pendapat beliau terhadap masalah yang sensitif ini, Yusuf Al-Qaradhawy mengemukakan beberapa butir alasan yang dikuatkan dengan dalil. Di bawah ini adalah alasan-alasan yang dikemukakan oleh Yusuf Al-Qaradhawy untuk menguatkan pendapat beliau, bahwa harta pencarian dan profesi wajib dikeluarkan zakatnya pada saat diterima, yaitu:

  1. Persyaratan satu tahun dalam seluruh harta termasuk harta penghasilan, tidak berdasar nash yang mencapai tingkat shahih atau hasan yang darinya bisa diambil ketentuan hukum syara' yang berlaku umum bagi ummat.
  2. Para sahabat dan tabi'in memang berbeda pendapat dalam harta penghasilan, sebagian mempersyaratkan adanya masa setahun, sedangkan sebagian lain tidak mempersyaratkannya, yang berarti wajib dikeluarkan zakatnya pada saat harta penghasilan tersebut diterima seorang Muslim. Oleh karenanya, persoalan tersebut dikembalikan kepada nash-nash yang lain dan kaidah-kaidah yang lebih umum.
  3. Ketiadaan nash ataupun ijmak dalam penentuan hukum zakat harta penghasilan membuat mazhab-mazhab berselisih pendapat tajam sekali, yang bila dijajagi lebih jauh justru menimbulkan berpuluh-puluh persoalan baru yang semakin merumitkan, yang seringkali hanya berdasarkan dugaan-dugaan dan tidak lagi didasarkan pada nash yang jelas dan kuat.  Semuanya membuat Yusuf Al-Qaradhawy menilai, bahwa adalah tidak mungkin syariat yang sederhana yang berbicara untuk seluruh ummat manusia, membawa persoalan-persoalan kecil yang sulit dilaksanakan sebagai kewajiban bagi seluruh ummat.
  4. Mereka yang tidak mempersyaratkan satu tahun sebagai syarat harta penghasilan wajib zakat, lebih dekat kepada nash yang berlaku umum dan tegas.  Karena nash-nash yang mewajibkan zakat, baik dari quran maupun sunnah datang secara umum dan tegas dan tidak terdapat di dalamnya persyaratan setahun.
    Misalnya: "Hai orang-orang yang beriman keluarkanlah sebagian usaha kalian" (QS 2:267).  Kata "ma kasabtum" merupakan kata umum yang artinya mencakup segala macam usaha: perdagangan atau pekerjaan dan profesi. 
    Para ulama fikih berpegang pada keumuman maksud ayat tersebut sebagai landasan zakat perdagangan, yang oleh karena itu kita tidak perlu ragu memakainya sebagai landasan zakat pencarian dan profesi.  Bila para ulama fikih telah menetapkan setahun sebagai syarat wajib zakat perdagangan, karena antara pokok harta dengan laba yang dihasilkan tidak dipisahkan, sementara laba dihasilkan dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam.  Lain halnya dengan gaji atau semacamnya yang diperoleh secara utuh, tertentu dan pasti.
  5. Di samping adanya nash yang berlaku umum dan mutlak, yang memberikan landasan kepada pendapat mereka yang tidak menjadikan satu tahun sebagai syarat harta penghasilan untuk wajib zakat, Qias yang benar juga mendukungnya.  Kewajiban zakat uang atau sejenisnya pada saat diterima seorang Muslim, diqiaskan dengan kewajiban zakat pada tanaman dan buah-buahan pada waktu panen.
  6. Pemberlakuan syarat satu tahun bagi zakat harta penghasilan, berarti membebaskan sekian banyak pegawai dan pekerja profesi dari kewajiban membayar zakat atas pendapatan mereka yang besar, karena mereka itu akan menjadi dua golongan saja: yang menginvestasikan pendapatan mereka terlebih dahulu dan yang berfoya-foya dan menghamburkan semua penghasilannya, sehingga tidak mencapai masa wajib zakatnya.  Itu berarti zakat hanya dibebankan pada orang-orang yang hemat saja, yang membelanjakan kekayaan seperlunya, dan yang mempunyai simpanan sehingga mencapai masa zakatnya. Hal ini jauh sekali dari maksud kedatangan syariat yang adil dan bijak, karena hal ini justru memperingan beban orang-orang pemboros dan memperberat orang-orang yang hidup sederhana.
  7. Pendapat yang menetapkan setahun sebagai syarat harta penghasilan, jelas terlihat saling kontradiksi yang tidak bisa diterima oleh keadilan dan hikmat islam mewajibkan zakat.
    Misalnya seorang petani menanam tanaman pada tanah sewaan, hasilnya dikenakan zakat sebanyak 10% atau 5%, sedangkan pemilik tanah yang dalam satu jam kadang-kadang memperoleh beratus-ratus dinar berupa uang sewa tanah tersebut tidak dikenakan zakat berdasarkan fatwa-fatwa dalam mazhab-mazhab yang ada, dikarenakan adanya persyaratan setahun bagi penghasilan tersebut sedangkan jumlah itu  jarang bisa terjadi di akhir tahun.
  8. Pengeluaran zakat penghasilan setelah diterima akan lebih menguntungkan fakir miskin dan orang-orang yang berhak lainnya. Ini akan menambah besar perbendaharaan zakat dan juga memudahkan pemiliknya dalam mengeluarkan zakatnya. Cara yang dinamakan oleh para ahli perpajakan dengan "Penahanan pada Sumber" sudah dipraktekkan oleh Ibn Mas'ud, Mu'awiyah dan juga Umar bin Abdul Aziz yaitu dengan memotong gaji para tentara dan orang-orang yang di bawah kekuasaan negara saat itu.
  9. Menegaskan bahwa zakat wajib atas penghasilan sesuai dengan tuntunan Islam, yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, kemauan berkorban, belas kasihan, dan suka memberi dalam jiwa seorang Muslim. Pembebasan zakat pada jenis-jenis penghasilan yang berkembang sekarang ini (karena mengharuskan menunggu satu tahun), berarti membuat orang-orang hanya bekerja, berbelanja, dan bersenang-senang, tanpa harus mengeluarkan rezeki pemberian Tuhan dan tidak merasa kasihan kepada orang yang tidak diberi nikmat kekayaan itu dan kemampuan berusaha.
  10. Tanpa persyaratan setahun bagi harta penghasilan akan lebih menguntungkan dari segi administrasi, baik bagi orang yang mengeluarkan maupun pihak amil yang memungut zakat.  Persyaratan satu tahun bagi zakat penghasilan, menyebabkan setiap orang harus menentukan jatuh tempo pengeluaran setiap jumlah kekayaannya yang diterimanya.  Ini berarti, bahwa seseorang Muslim bisa mempunyai berpuluh-puluh masa tempo masing-masing kekayaan yang diperoleh pada waktu yang berbeda-beda.  Ini sulit sekali dilakukan, dan sulit pula bagi pemerintah memungut dan mengatur zakat yang dengan demikian zakat tidak bisa terpungut dan sulit dilaksanakan.

Nisab dan besarnya zakat pencarian dan profesi

Setelah menetapkan harta penghasilan dari pencarian dan profesi adalah wajib zakat, Yusuf Al-Qaradhawy menjelaskan pula berapa besar nisab untuk jenis harta ini, yaitu 85 GRAM EMAS seperti hal besarnya nisab uang. Demikian pula dengan besarnya zakat adalah dua koma lima persen (2,5%) sesuai dengan keumuman nash yang mewajibkan zakat uang sebesar itu.

Orang-orang yang memiliki profesi itu menerima pendapatan mereka tidak teratur, bisa setiap hari seperti dokter, atau pada saat-saat tertentu seperti seorang advokat, kontraktor dan penjahit, atau secara reguler mingguan atau bulanan seperti kebanyakan para pegawai.

Bila nisab di atas ditetapkan untuk setiap kali upah, gaji yang diterima, berarti kita akan membebaskan kebanyakan golongan profesi yang menerima gaji beberapa kali pembayaran dan jarang sekali cukup nisab dari kewajiban zakat.  Sedangkan bila seluruh gaji itu dalam satu waktu tertentu itu dikumpulkan akan cukup senisab bahkan akan mencapai beberapa nisab.

Adapun waktu penyatuan dari penghasilan itu yang dimungkinkan dan dibenarkan oleh syariat itu adalah satu tahun. Di mana zakat dibayarkan setahun sekali. Fakta juga menunjukkan bahwa pemerintah mengatur gaji pegawainya berdasarkan ukuran tahun, meskipun dibayarkan per bulan karena kebutuhan pegawai yang mendesak.

Jangan lupa bahwa yang diukur nisabnya adalah penghasilan bersih, yaitu penghasilan yang telah dikurangi dengan kebutuhan biaya hidup terendah atau kebutuhan pokok seseorang berikut tanggungannya, dan juga setelah dikurangi untuk pembayaran hutang (ini hutang bukan karena kredit barang mewah, tapi karena untuk memenuhi kebutuhan pokok/primer seperti halnya bayar kredit rumah BTN, dan lain-lain).

Bila penghasilan bersih itu dikumpulkan dalam setahun atau kurang dalam setahun dan telah mencapai nisab, maka wajib zakat dikeluarkan 2.5%-nya. Bila seseorang telah mengeluarkan zakatnya langsung ketika menerima penghasilan tersebut (karena yakin dalam waktu setahun penghasilan bersihnya akan lebih dari senisab), maka tidak wajib lagi bagi dia mengeluarkannya di akhir tahun (karena akan berakibat zakat ganda).

Selanjutnya orang tersebut harus membayar zakat dari penghasilan pada tahun kedua dalam bentuk kekayaan yang berbeda-beda: 

  • Bila kelebihan itu disimpan dalam bentuk uang, emas dan perak, maka kaji kita akan kembali pada pembahasan mengenai zakat uang, emas dan perak.
  • Bila kelebihan itu diinvestasikan (pabrik, gedung, rumah yang disewakan, kendaraan yang disewakan, dll), kita perlu membahas zakat investasi.
  • Bila harta tsb selanjutnya diputar dalam perdagangan maka zakatnya dibahas dalam zakat perdagangan.
  • Bila dibelikan saham atau obligasi, maka zakatnya dibahas dalam zakat saham dan obligasi.
  • Bila dibelanjakan untuk sesuatu yang dipergunakan sehari-hari atau yang tidak mempunyai potensi berkembang, maka tidak ada kewajiban zakat lagi pada tempo yang kedua ini.

Itulah penjelasan mengenai Zakat Pencarian dan Profesi yang berhasil Bang Fuji rangkumkan. Jika Anda memiliki saran, koreksi, pertanyaan, atau tambahan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih.

Artikel ini dibuat dengan berbagai keterbatasan ilmu, tetapi penulis berusaha membuatnya seakurat dan sesempurna mungkin. Jika terdapat kesalahan di dalamnya, itu murni kesalahan penulis dan apabila benar, itu adalah karena rahmat Allah SWT. Untuk itu, koreksi dan saran sangat penulis harapkan.

Jika Anda merasa terbantu oleh artikel ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan supaya Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan dunia akhirat kepada Bang Fuji sekeluarga. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
Kitab Fikih Zakat karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawy, yang disarikan oleh Lukman Mohammad Baga 
Gambar:
Dokumen pribadi

Admin
Salah satu admin di Trigonal Media. Sering nongkrong di media sosial berikut:

memuat...
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Cara mengubah gaya teks di Disqus Blogger Paling Aktif
  • Untuk menulis huruf bold, silakan gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic, silakan gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline, silakan gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought, silakan gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML, silakan gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>.
    Atau silakan gunakan parse tool di bawah ini.
Buka Parse Tool Tutup Parse Tool



strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed