--> Skip to main content

Penembakan Chapel Hill: Profesionalitas Media Amerika Dipertanyakan

Penembakan tiga warga muslim di kota Chapel Hill tidak hanya menyisakan duka tetapi juga memicu kemarahan banyak orang di dunia. Simak penelusuran Trigonal Media berikut ini.

ChapelHillShooting_Deah Barakat, Yusor Mohammad Abu-Salha dan Razan Mohammad Abu-Salha

Deah Shaddy Barakat (23), berserta istrinya, Yusor Mohammad (21), dan saudarinya Razan Mohammad Abu-Salha (19) tewas ditembak oleh tetangganya sendiri, Craig Stephen Hicks (46). Pemicu awal pembunuhan ini, seperti yang diungkapkan oleh Kepolisian Negara Bagian North Carolina, adalah karena pertengkaran memperebutkan tempat parkir.

Yang lebih menyedihkan adalah, tidak ada pemberitaan cepat dari media Amerika Serikat seperti halnya apa yang mereka lakukan ketika "teroris Islam" melakukan kejahatan. Butuh sekitar 17 jam setelah kejadian, bagi mereka untuk menurunkan berita, itu pun setelah kasus ini ramai dibicarakan di media sosial, seperti Twitter dan Facebook. Di Twitter sendiri, tagar #ChapelHillShooting dan #ShameOnUSMedia digunakan lebih dari 1.800.000 kali dan menjadi topik populer tidak hanya di Amerika Serikat namun juga di Inggris, Mesir, Arab Saudi dan termasuk Indonesia.

Media Barat seperti memiliki standar ganda dalam pemberitaan. Jika yang salah itu "Islam", mereka ramai-ramai mencerca, tetapi ketika "Islam" menjadi korban, media sunyi senyap, dan meskipun berita dituliskan tetapi ditulis sedemikian rupa sehingga tampak biasa saja bahkan terkesan ogah-ogahan.

Profesor Jonathan Brown dari Georgetown University bahkan menambahkan bahwa islamofobia yang digembar-gemborkan oleh media Amerika Serikat bisa berbalik dan menghancurkan diri mereka sendiri. Pendapat ini diamini oleh tokoh muslim Indonesia di AS, Muhammad Shamsi Ali.

 

Hikmah Berita

Amerika Serikat seharusnya tahu bahwa ketidakseimbangan yang mereka tuntut dari negara lain, harus pula mereka terapkan di negara mereka. Mereka seperti tidak ingin mengakui bahwa mereka hanya akan semakin lemah dan picik.

Kebencian atas Islam yang mereka sebarkan, suatu saat akan meluluh lantakkan mereka sendiri. Sebagai negara yang katanya paling demokratis dan berdaulat di dunia, seharusnya mereka menjadi contoh bagi negara-negara lain.

Sekarang ini, mereka hanya tampak seperti seorang anak populer yang iri dengan anak populer lainnya, dan berusaha untuk menjatuhkannya dengan segala cara. Ingat, karma itu ada dan nyata!

Semoga kita semua bisa hidup berdampingan, tanpa dibumbui sentimen negatif mengenai agama, ras, dan suku.

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengutip artikel ini, mohon sertakan tautan hidup ke situs web atau halaman ini. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
1. Shohib Masykur. Profesor Georgetown University Sebut Penembakan 3 Muslim Dampak Islamofobia. Diakses pada tanggal: 16/02/2015
2. Detikcom. Media AS yang Hipokrit dan Bahaya Radikalisasi dalam Kasus Penembakan 3 Muslim. Diakses pada tanggal: 16/02/2015
3. BBC Indonesia. #TrenSosial: Penembakan Chapel Hill, insiden parkir atau kebencian?. Diakses pada tanggal: 16/02/2015