--> Skip to main content

Upaya-Upaya Guru dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Sekolah dipahami sebagai lembaga pendidikan formal. Di tempat inilah kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ilmu pengetahuan diajarkan dan dikembangkan kepada anak didik. Oleh karena itu sekolah menjadi satu lingkungan yang khas sebagai lingkungan pendidikan. Para guru dan siswa terlibat secara interaktif dalam proses pendidikan. Proses tersebut meliputi kegiatan pendidikan, pembelajaran dan latihan.

guru

Proses pendidikan pada umumnya dilangsungkan di sekolah melalui kegiatan pembelajaran yang merupakan sebuah proses perubahan tingkah laku. Perubahan itu meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Seharusnya, hasil pembelajaran tersebut berdampak baik bagi mutu pendidikan dan kehidupan bangsa Indonesia. Akan tetapi, hasil penelitian UNDP (United Nation Development Program) Tahun 1999, menunjukkan bahwa HDI (Human Development Index) kita berada pada urutan 105 dari 117 negara yang diteliti. Kita tertinggal oleh negara tetangga (seperti Singapura (22), Brunei (25), Malaysia (56), Thailand (58) dan Filipina (96).

Uraian di atas menyadarkan kita bahwa mutu pendidikan kita sudah tertinggal dari negara-negara tetangga. Mutu yang rendah itu salah satunya disebabkan oleh pola manajemen yang dikembangkan selama ini kurang memberi ruang bagi berkembangnya kreativitas dan inovasi para tenaga didik yang mengelola pendidikan.

Sedangkan dalam Tulus Tu’u (2004:5) usaha-usaha guru dalam meningkatkan mutu/kualitas pendidikan antara lain:

Manajemen Berbasis Sekolah

Lahirnya Undang-undang mengenai Otonomi Daerah No. 22/1999, No. 25/1999, PP 25/2000 telah mengubah wajah manajemen pemerintahan dari model sentralistik ke desentralistik. Demikian pula dengan manajemen pendidikan berubah dari model sentralistik ke desentralistik.

Perubahan manajemen tersebut cukup penting, mengingat kegagalan keberhasilan suatu lembaga/organisasi ditentukan oleh pola manajemen yang diterapkannya. Dengan dikembangkannya manajemen desentralistik di bidang pendidikan, ada harapan mutu pendidikan kita dapat ditingkatkan. Dengan otonomi tersebut, diharapkan sebagai berikut:

  1. Kesatuan dan integritas nasional semakin kuat, karena daerah merasa dihargai kreasi dan potensinya. Daerah berkesempatan membuktikan dirinya mampu mengelola dan memajukan daerahnya termasuk di bidang pendidikan.
  2. Daerah ikut terlibat dan bertanggung jawab dalam mencerdaskan daerahnya. Dengan ikut menjamin bahwa tiap warga negara di daerahnya berhak memperoleh layanan pendidikan.
  3. Melibatkan dan memberdayakan partisipasi masyarakat bagi pengembangan sumber dana dan penyelenggaraan pendidikan.
  4. Adanya peningkatan mutu pendidikan yang berdampak bagi mutu SDM yang kompetitif. Mutu tersebut dapat dicapai apabila ada data, dana, sarana dan partisipasi masyarakat.
  5. Akuntabilitas bukan lagi tertuju ke pusat, tetapi kepada stake holder-nya. Masyarakat ikut terlibat dalam penyelenggaraan dan pengawasan pendidikan  sehingga mutu dapat meningkat.

MBS dikembangkan dengan tujuan adanya otonomi sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi tanpa mengabaikan kebijakan nasional. Peningkatan mutu dicapai dengan fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas, partisipasi orang tua dan masyarakat, kinerja guru yang kreatif dan inovatif. Hal ini dapat disimpulkan bahwa manajemen sangat penting dan besar pengaruhnya bagi peningkatan mutu  pendidikan dan prestasi belajar siswa.

Pembelajaran Student Centre

Proses pembelajaran yang terjadi di kelas pada umumnya model teacher centre (berpusat pada guru) bukan student centre (berpusat pada siswa). Kalau berpusat pada guru, gurulah yang menguasai dan mendominasi pembelajaran itu. Biasanya pembelajaran model ini dipakai metode ceramah.

Sedangkan belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa yang akting bekerja dan berkarya, guru hanya mengarahkan pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assasment) yang benar. Pembelajaran model ini menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kelompok.

Pemilihan Metode Pembelajaran

Semakin besar jumlah siswa dalam satu kelas, semakin tidak efektif kegiatan pembelajaran. Semakin kecil kelas, semakin efektif kegiatan pembelajaran. Dengan kelas kecil, guru dapat memberi perhatian penuh kepada siswa. Metode pembelajaran dapat dilakukan secara variatif, interaktif, aktif dan kreatif. Siswa dapat terlibat penuh dalam pembelajaran. Kalau kelas besar, metode yang dipakai pada umumnya metode ceramah.

Di sini siswa hanya sebagai penerima pasif, yang terjadi dalam pendidikan kita, kelas yang ada adalah kelas yang besar jumlah siswanya, karena kebijakan yang ada baru untuk mencapai kuantitas (jumlah murid), belum pada pencapaian kualitas (mutu) pembelajaran.

Disiplin Sekolah

Disiplin sekolah perlu diterapkan dalam seluruh komponen yang ada di sekolah. Seluruh komponen tersebut ikut memberi kontribusi bagi disiplin siswa yang berpengaruh pada perubahan perilaku dan prestasinya. Komponen-komponen sekolah yang utama menurut Tulus Tu’u (2004:12) antara lain kurikulum dan program pembelajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan dan sarana prasarana.

Komponen tersebut perlu dikelola mengikuti kaidah manajemen. Manajemen sangat penting dalam pengelolaan pendidikan. Manajemen merupakan proses yang terencana untuk mencapai satu tujuan tertentu. Tanpa manajemen, tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien. Jadi, manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena itu, untuk peningkatan mutu pendidikan juga menuntut manajemen pendidikan yang lebih baik.

Berdasarkan hal tersebut, penerapan disiplin dalam komponen-komponen sekolah penting dilakukan untuk peningkatan kinerja. Dengan disiplin, pedoman dan tujuan organisasi diperkuat dan diperteguh. Disiplin mendorong orang bertanggung jawab dalam bekerja dan mengikuti aturan yang berlaku. Disiplin menyadarkan orang untuk menghargai dan memelihara aturan yang ada di lingkungannya.

Ada 2 macam disiplin yang perlu ada dan dikembangkan yaitu disiplin preventif dan korektif.

  • Disiplin preventif, yakni upaya menggerakkan pegawai mengikuti dan memenuhi pedoman kerja dengan peraturan yang berlaku. Dengan hal itu, pegawai berdisiplin dan dapat memelihara dirinya terhadap pedoman dan peraturan yang ada.
  • Disiplin korektif, yakni upaya mengarahkan pegawai untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang ada.

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang pembahasan ini, silakan baca buku atau sumber informasi yang ada di bagian referensi. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel: 
Berbagai sumber 
Gambar:
pixabay.com