--> Skip to main content

Pantaskah Surga Ada di Telapak Kaki Ibu?

ibu

Kita sering mendengar bahwa surga ada di telapak kaki ibu, sebenarnya pantaskah seorang ibu yang manusia biasa mendapatkan anugerah sebesar itu? Adilkah seorang ibu yang juga tidak luput dari dosa memiliki kekuatan suci? Simak ulasan Trigonal Media berikut ini.

Jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah PANTAS dan ADIL!!! Tapi …

Tapi, seorang wanita harus terlebih dulu menjadi seorang ibu, yang menjadikan dirinya pembimbing anak-anaknya dan pengayom rumah tangganya. Meskipun jalan hidup menjadikannya wanita karir, lantas apakah bisa mendapat dispensasi menjadi seorang ibu? Ibu tetaplah ibu. Ibu bukanlah profesi yang bisa ditinggalkan, tetapi anugrah seumur hidup bahkan sampai akhirat kelak. Ingat, baik dan tidaknya seorang anak akan dipertanggung jawabkan oleh ibunya.

Seorang Ibu adalah seorang wanita, tetapi seorang wanita mungkin saja bukan seorang ibu. Di sinilah perbedaannya. Begitu banyak wanita di dunia ini, tetapi ibu semakin sedikit. Mungkin inilah penyebab dunia seperti kering, kasar, dan penuh amarah, karena dunia kehilangan sosok-sosok ibu yang bisa memberikan kelembutan, kasih sayang, dukungan, doa tulus, dan dekapan untuk anak-anaknya.

Seorang ibu memiliki kewajiban untuk melahirkan dan menyusui anaknya. Tapi dewasa ini anak-anak disusui plastik dengan cairan susu dari sapi. “Menyusui itu males banget, mending yang praktis aja susu formula!” Padahal melahirkan dan menyusui itu baik bagi si ibu. Tidak percaya? Silakan cari informasi dari sumber tepercaya, penyakit apa yang menghantui ibu tidak menyusui dan melahirkan.

Seorang ibu memiliki kodrat untuk selalu mendoakan anak-anaknya. Tapi yang terjadi sekarang, para ibu lebih mementingkan berdoa untuk mendapatkan materi, baju, perhiasan, mobil, dan rumah. “Ya Tuhan, mohon perbesar gaji anak saya, supaya saya bisa beli tas branded buat arisan minggu depan!” Tidak semua ibu seperti itu, tapi semakin banyak ibu yang seperti itu.

Pengorbanan materi bagi seorang ibu adalah hal kecil, dengan mudah mereka akan memberikan apa saja untuk anak-anaknya. Tapi saat ini, mereka lebih mementingkan keinginan mereka sendiri daripada kebutuhan keluarga dan anak-anak mereka. “Nak, uang bukunya Ibu pinjem dulu buat arisan ya, ntar kalo udah menang ibu kasih lagi!

Kehidupan para calon Ibu lebih memprihatinkan lagi, mereka dididik dengan uang, uang, dan uang. Mereka lebih mementingkan ninja, mobil, pulsa, ponsel, dan jalan-jalan. Mereka sangat jauh dari ajaran agama atau bahkan pendidikan formal. Padahal para calon ibu itu harus pintar dan bermoral, karena merekalah yang akan membimbing anak-anaknya kelak. Jika ibunya bodoh dan bejat, bagaimana dengan anaknya?

Di sini saya tidak menggeneralisir bahwa semua ibu atau calon ibu itu bejat, saya percaya masih banyak ibu dan calon ibu yang baik. Contoh nyata ya tentu saja ibu dan istri kita sendiri, mereka adalah yang terbaik untuk kita, mereka ada saat kita membutuhkan dan selalu mendoakan kita di setiap nafasnya, sesibuk apapun mereka.

Saya hanya kesal, dengan beberapa gelintir oknum ibu dan calon ibu yang tampaknya lupa dengan peran mereka di dunia ini. Di mana hati nurani mereka, ketika membuang jabang bayi mereka sendiri ke selokan? Di mana otak mereka, ketika dengan mudahnya mereka menukar harga diri demi beberapa lembar kertas? Di mana rasa malu mereka, ketika mempertontonkan auratnya hanya untuk dibilang seksi dan gaul?

Jadi, masih pantaskah surga berada di telapak kaki ibu? Silakan berikan pendapat Anda di kolom komentar. Terima kasih.

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengutip artikel ini, mohon sertakan tautan hidup ke situs web atau halaman ini. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel: 
Pribadi 
Gambar:
pixabay.com