--> Skip to main content

Ternyata, Aku Masih Iri Dengan Rezeki Orang Lain

Aku melihat hidup teman-temanku tak ada duka dan kepedihan, ternyata mereka hanya pandai menutupi dengan mensyukuri.

Ternyata, Aku Masih Iri Dengan Rezeki Orang Lain

Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat, ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah.

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian, ternyata ia begitu menikmati badai hujan dlm kehidupannya.

Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna, ternyata ia hanya berbahagia menjadi apa adanya.

Aku melihat hidup tetanggaku beruntung, ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui. Ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmat-Mu, bahwa di belahan dunia lain masih ada orang yang tidak seberuntung aku.

Dan satu hal yang aku harus yakini, bahwa Allahu Rabbi tak pernah mengurangi ketetapan-Nya. Hanya akulah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan takdir Ilahi.

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain..

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku, tapi rezekiku tahu di mana diriku. Dari lautan biru, bumi, dan gunung, Allah Ta'ala telah memerintahkannya menuju kepadaku. Allah Ta'ala menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.

Amatlah keliru bila bertawakal rezeki dimaknai dari hasil bekerja, karena bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya. Melalaikan kebenaran demi mengkhawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda.

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati. Mereka lupa bahwa hakikat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya. Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya.

Diulang bolak balik sebanyak 7 kali sepanjang Shafa dan Marwa, tapi air Zamzam justru muncul dari kaki sang bayi, Ismail a.s.

Ikhtiar itu perbuatan, sedangkan rezeki itu kejutan.

Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakikat rezeki akan ditanya kelak, dari mana dan digunakan untuk apa. Karena rezeki hanyalah "hak pakai", bukan "hak milik".

Maka, aku tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain. Bila aku iri pada rezeki orang, sudah seharusnya aku juga iri pada takdir kematiannya.

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang pembahasan ini, silakan baca buku atau sumber informasi yang ada di bagian referensi. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
Mang Jamal. facebook.com. Diakses pada tanggal: 29/01/2016  
Gambar:
Dokumen pribadi