--> Skip to main content

Budidaya Cabai Hot Beauty

Budidaya cabai varietas hot beauty sama saja dengan budidaya tanaman lainnya, hanya ada beberapa perbedaan yang tidak terlalu mencolok. Berikut Trigonal Media berikan penjelasannya berikut ini.

Budidaya Cabai Hot Beauty

Kedudukan tanaman cabai Hot Beauty dalam botani tumbuhan sebagaimana terlihat pada sistematika berikut ini (Nawangsih, Imdad, dan Wahyudi, 2003):

  • Kingdom: Plantae
  • Divisio: Spermatophyta
  • Sub-divisio: Angiospermae
  • Class: Dicotyledonae
  • Sub-class: Metachlamydeae
  • Famili: Solanaceae
  • Genus: Capsicum
  • Spesies: Capsicum annum L.
  • Varietas: Hot beauty (cabai Taiwan)

Cabai hot beauty termasuk tanaman semusim, berdiri tegak, dan berbentuk perdu.  Tinggi tanaman berkisar antara 0,65 sampai 0,75 meter. Tanaman dewasa bertajuk lebar berukuran 0,65 sampai 1 meter. Tanaman ini berumah satu dan dapat melakukan penyerbukan sendiri. Perakarannya dangkal, kedalaman sekitar 45 centimeter, dan penyetarannya 30 sampai 45 meter ke arah samping.

Syarat Tumbuh

Cabai hot beauty menyukai tanah yang subur, gembur, dan kaya bahan organik.  Tanaman ini dapat dibudidayakan hampir di semua jenis tanah, terutama pada tanah latosol, andosol, regusol, dan mediteran. Untuk pertumbuhan tanaman cabai diperlukan pH optimum antara 6 sampai 6,5.  Untuk meningkatkan derajat keasaman tanah dapat dilakukan dengan pengapuran.  Drainase tanah dapat diperbaiki dengan menggemburkan tanah dan pembuatan saluran/parit yang memadai (Nawangsih, dkk., 2003).

Syarat iklim yang penting dan harus dapat terpenuhi untuk pertumbuhan tanaman hot beauty adalah tersedianya intensitas cahaya yang cukup.  Agar syarat ini dapat terpenuhi, maka areal untuk budidaya dipilih pada tempat yang terbuka tanpa ada naungan.

Temperatur optimum yang diperlukan untuk aktivitas fisiologis tanaman berkisar antara 25 sampai dengan 30oC. Umumnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman menghendaki temperatur yang stabil terutama temperatur tanah tempat tumbuh tanaman.

Pengolahan Tanah

Tanah digemburkan dengan cara dibajak dalam keadaan air yang melimpah, dengan kedalaman pengolahan tanah cukup 30 centimeter. Tanah yang selesai dibajak selanjutnya dibuat bedengan kasar dengan tujuan utnuk mempermudah pembuangan air ke luar areal sehingga air tidak menggenang.

Pada saat pemnbentukan bedengan kasar, tanah diberi kapur pertanian dengan dosis sebesar 1,5 sampai 2 ton per hektar atau 150 sampai 200 gram per meter persegi.  Bedengan dibuat dengan panjang 10 sampai 12 meter, lebar 110 sampai 120 centimeter, dan tinggi bedeng 40 sampai 50 centimeter.  Jarak antar bedengan dibuat 60 sampai 70 centimeter.  Permukaan bedeng dibentuk menyerupai bentuk setengah lingkaran dan diratakan dengan tujuan agar mulsa plastik dapat dipasangkan dengan mudah dan melekat erat.

Setelah bedeng terbentuk, langkah selanjutnya adalah mencampurkan bahan organik berupa kompos atau pupuk kandang.  Dosis pupuk kandang adalah 15 sampai 20 ton per hektar atau 2,5  sampai 4 kilogram per meter persegi.  Pupuk kandang ditebar merata di permukaan bedeng dan diolah kembali agar tercampur merata dengan tanah bedeng hingga kedalaman 20 sampai 30 centimeter.

Setelah bahan organik dan kapur pertanian ditebar di bedeng, selanjutnya dilakukan pemberian pupuk anorganik.  Kebutuhan pupuk anorganik untuk tanah seluas 1 hektar sebanyak 1.665 kilogram campuran yang terdiri dari Urea (200 kg), ZA (600 kg), TSP/SP36 (400 kg), KCl (350 kg), Bored (15 kg), dan Kieserit (100 kg).

Setelah pupuk ditebar secepatnya permukaan bedeng ditutup dengan plastik perak hitam. Pemasangan mulsa plastik ini dengan cara warna hitam dipasang menghadap ke tanah, sedangkan warna perak menghadap ke atas. Waktu pemasangan mulsa sebaiknya pada siang hari saat temperatur udara tinggi dengan tujuan agar plastik dapat dipancang sehingga melekat erat pada permukaan bedeng.

Manfaat penggunaan mulsa plastik perak hitam pada budidaya hot beauty adalah (1) Dapat memelihara kestabilan mikroflora, kelembaban tanah dan tingkat kesuburan tanah, (2) Menghindari terjadinya fluktuasi suhu permukaan tanah dan pencucian hara oleh air hujan, (3) Menekan pertumbuhan tanaman pengganggu sehingga tidak terjadi kompetisi dalam penyerapan hara tanah, (4) Mengurangi sumber inokulum (sumber penyakit) penting tanaman cabai, (5) Meningkatkan kebersihan, (6) Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, dan (7) Mempermudah kegiatan pemeliharaan (Nawangsih, dkk., 2003).

Penanaman

Sebaiknya seminggu sebelum bibit siap dipindahkan atau ditanam, pemasangan mulsa plastik perak hitam sudah selesai.  Bibit tanaman cabai hot beauty yang ditanam adalah bibit yang sudah menumbuhkan empat helai daun atau telah berumur 17 sampai 23 hari setelah tebar (Nawangsih, dkk., 2003).

Tanaman cabai hot beauty mempunyai tajuk lebar, karena itu sebaiknya ditanam dengan pola tanam segi tiga dengan jarak tanam dibuat 70 centimeter (jarak antar alur tanam) x 60 centimeter (jarak antar tanaman dalam alur).

Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan cara menggali tanah tepat di bagian mulsa yang telah dilubangi.  Tanah digali dengan alat bantu yang dibuat dari bambu.  Pengggalian dilakukan secara hati-hati agar bagian sisi mulsa tidak rusak.  Kedalaman lubang tanam sekitar 8 sampai 10 centimeter.

Sebelum ditanam, sebaiknya bibit bersama wadah medianya dicelupkan dalam larutan Agrimycin / Agrept dengan konsentrasi 1,2 gram per liter air, selanjutnya dicelupkan kembali dalam larutan Delsene / Dorosal degan konsentrasi 1 gram per liter air.  Perlakuan ini dimaksudkan untuk mencegah patogen yang di pembibitan tidak berkembang dan mungkin akan berkembang di lapangan.

Penanaman dilakukan dengan cara membuka polibag tempat media bibit, kemudian bibit diletakkan dalam lubang tanam yang telah disiapkan dan ditutup kembali dengan tanah.  Kedalaman pembenaman bibit dalam lubang tanam sebatas leher akar media semai (Nawangsih, dkk., 2003).

Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan pemeliharaan tanaman cabai hot beauty meliputi:

  1. Perempelan
    Perempelan adalah kegiatan membuang tunas-tunas baru yang tumbuh pada batang utama atau di setiap ketiak daun cabai dan membuang bunga pemula dan daun-daun cabai tua.  Perempelan dilakukan setelah tanaman berumur 70 sampai 75 hari setelah penanaman (Nawangsih, dkk., 2003).
  2. Penyulaman
    Bibit cabai yang mengalami kemunduran pertumbuhan sebaiknya dicabut dan diganti dengan bibit baru yang telah disiapkan, Umur bibit yang dijadikan pengganti sebaiknya sama agar pertumbuhan tanaman dapat seragam. Oleh karena itu, pada saat pembibitan harus dipersiapkan sejumlah bibit cabai untuk menyulam.  Jumlah total persediaan untuk cadangan berkisar antara 5 sampai 10 persen dari jumlah total kebutuhan.
  3. Pengajiran
    Ajir merupakan alat bantu yang terbuat dari belahan bambu yang berfungsi membantu tegaknya tanaman cabai.  Ajir dibuat dengan ukuran panjang 125 sampai 150 centimeter, lebar 4 centimeter, dan tebal 2 centimeter.
    Pemasangan ajir sebaiknya dilakukan pada saat bibit belum tumbuh lanjut sehingga tidak mengganggu perakaran. Cara pemasangan ajir cukup ditancapkan pada jarak kurang lebih 10 cenetimeter dari batang utama.  Batang cabai dan ajir diikat dengan tali rapia.
  4. Pemupukan Susulan
    Pemupukan susulan dilakukan dengan memberikan pupuk buah, pupuk daun, NPK dan pupuk mikro.
  5. Penyiangan
    Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis tanaman penggangu (gulma) yang hidup di sekitar pertanaman cabai. Jenis gulma yang tumbuh sangat bervariasi tergantung tempat tumbuh, cara pengolahan tanah dan lokasi.  Gulma semusim (berdaun lebar) yang sering dijumpai di semua lokasi misalnya babadotan (Ageratum conyzoides), bayam duri (Amaranthus spinosus), golongan teki-tekian (Cyperus sp.) atau gulma berstolon, dan golongan rumput-rumputan seperti rumput kremah, rumput bermuda, dan alang-alang.
    Gulma yang tumbuh di lubang tanam diberantas dengan cara dicabut secara hati-hati. Umumnya bagian perakaran gulma sudah menyatu dengan akar tanaman cabai, oleh karena itu penanganannya harus sesegera mungkin agar mudah dikendalikan dan tidak merusak akar tanaman cabai.
  6. Pengendalian Hama dan Penyakit
    Dilihat dari potensi merusaknya, jenis hama yang menyerang tanaman cabai dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu hama penting dan hama tidak penting.  Hama penting adalah jenis hama yang biasanya menyerang tanaman cabai dan menimbulkan kerusakan berat, contohnya: kutu daun, thrips, tungau, dan lalat buah.  Sedangkan hama tidak penting biasanya menimmbulkan kerusakan yang ringan, misalnya: belalang, kepik hijau, ulat grayak, dan ulat tanah.
    Penyakit pada tanaman cabai dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyakit infeksius dan penyakit non infeksius.  Penyakit infeksius adalah penyakit yang berjangkit pada tanaman dan menimbulkan jejak berupa infeksi pada organ tanaman yang sakit. Beberapa jenis penyakit infeksius penting dan cukup penting pada tanaman cabai adalah Antraknosa, Layu Bakteri, Layu Fusarium, Bercak Daun, Rebah Kecambah, Busuk Pangkal Batang, Embun Tepung (Powdery Mildew), dan Yellow Leaf Curl.
    Sedangkan penyakit non infeksius adalah penyakit yang berjangkit pada tanaman, tetapi pada jaringan tanaman yang sakit tidak menimbulkan jejak infeksi.  Beberapa jenis penyakit non infeksius adalah kekurangan unsur besi (Fe), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan keracunan zat kimia.

Panen

Umumnya cabai dipanen bila telah masak penuh atau pada waktu belum masak penuh.  Ciri-ciri buah yang telah masak penuh adalah seluruh bagian buah berwarna merah, sedangkan buah yang belum masak sempurna masih berwarna hijau kehitaman.  Cabai hot beauty yang ditanam di dataran rendah, masa panen pertama dapat dimulai pada waktu tanaman berumur 75 sampai 80 hari setelah tanam dengan interval panen 1 sampai 3 hari sekali.  Sementara di dataran tinggi, panen pertama mulainya lebih lambat, yaitu pada waktu tanaman berumur 90 sampai 100 hari setelah tanam dengan interval panen 3 sampai 5 hari sekali.

Secara umum periode panen buah cabai berlangsung antara 1,5 sampai 2 bulan. Produksi tanaman cabai hot beauty mencapai 1,6 sampai 2 kg per tanaman.  Total produksi cabai hot beauty berkisar antara 23.000 sampai 28.000 kilogram per hektar.

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang pembahasan ini, silakan baca buku atau sumber informasi yang ada di bagian referensi. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
Nawangsih, A.A., Imdad, H.P., dan Wahyudi, A. (2003). Cabai Hot Beauty Edisi Revisi. Jakarta: Penebar Swadaya 
Gambar:
Dokumen pribadi