--> Skip to main content

Siluman Rubah Putih

Aku berlari di atas tumpukan salju putih, aku berusaha berlari secepat mungkin. Saat aku sampai di tempat di mana ia berjanji menemuiku, tak ada siapa pun, aku menyusuri sekelilingku tidak ada orang di sini Cuma pohon yang tertutup salju dan air mancur yang membeku. Aku menyingkirkan salju yang menumpuk di sebuah bangku taman yang kosong dan mendudukinya.

Siluman Rubah putih

Aku melihat arloji perakku, pukul 05.46 sore. Sepintas aku bingung dia bilang jam 4 sore tapi saat ini ia belum kunjung datang malah aku yang datang lebih dulu, aku berusaha bersabar dan menunggu sampai matahari sudah tak terlihat lagi. Aku mulai gelisah, kenapa dia tak kunjung datang?, apa yang terjadi?. Bukannya dia berjanji akan menjelaskan semuanya padaku?  Pertanyaan dan pertanyaan terus muncul di kepalaku. Hari sudah malam hanya satu lampu taman yang menyinariku dan udara dingin musim dingin ini mulai membuat aku merinding kedinginan terapalagi di tengah kesunyian seperti ini, berhasil membuatku merangkul tubuh sendiri.

Karena dia tak juga terlihat, aku mengambil handphoneku dan mencoba menghubunginya tapi tak dapat dihubungi lalu aku kirim sms tapi dia tak kunjung membalas. Aku mulai habis kesabaran berapa kali aku menengok kanan kiriku dan melihat arlojiku seiring berjalanya waktu. Laki-laki itu tak juga datang , saat aku hendak pergi hati nuraniku memaksa tubuh ini untuk diam di tempat, terpaksa aku menurutinya.

Aku yakin saat ini keempat kakak laki-lakiku mengkhawatirkanku karena tak kunjung pulang. Saat ku lihat langit bulan purnama begitu cerah menyinari bumi, betapa kagetnya aku, aku celingukkan melihat adakah orang selain aku di tempat ini. Tapi untung tak ada siapa pun, saat awan hitam yang menghalangi sinar bulan pergi dan sinar itu langsung jatuh kepadaku. Aku merasakan panas yang membara pada mata kiriku dan munculnya taring serta Sembilan ekor putih di tubuhku. Hal ini memang biasa terjadi saat bulan purnama padaku. Sesuatu yang aneh dan tak lazim.  Karena itulah alasanku menunggu laki-laki berambut putih itu.

“Ternyata benar kau siluman rubah putih” suara yang  tiba-tiba muncul mengagetkanku yang masih kesakitan pada mata kiriku, seseorang menatapku dari kejauhan dari balik bayangan hitam awan. Siapa itu…

 

Gambar dan cerita ini adalah hasil karya Citra. Anda bebas menggunakan artikel ini untuk tujuan pendidikan dan informasi (tidak untuk tujuan komersil), tetapi harus menyertakan tautan/rujukan ke situs web ini. Terima kasih.