Skip to main content

Pengertian Kurikulum

Pengertian kurikulum secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”. Istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani. Sedangkan istilah kurikulum dalam bahasa Prancis berasal dari kata courier yang berarti berlari (to run). Kurikulum berarti jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai garis finish untuk memperoleh penghargaan. Jarak yang harus ditempuh kemudian diubah menjadi program sekolah dan semua orang yang terlibat didalamnya (Arifin, 2011 : 2-3).

Dalam bahasa Arab, kata kurikulum bisa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam Qamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan (Ramayulis, 2008:150).

Secara etimologis kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajarnya saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksanaannya bukan saja di sekolah tetapi juga diluar sekolah (Ramayulis, 2008 : 152).

Peranan Kurikulum

Menurut Oemar Hamalik (2011: 12) peranan kurikulum ada ada tiga jenis, yakni :

  1. Peranan Konservatif
    Adalah mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial pada generasi muda. Dengan demikian sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat mempengaruhi dan membina perilaku siswa sesuai dengan nilai sosial yang ada di masyarakat, sejalan dengan peranan pendidikan sebagai proses sosial. 
  2. Peranan Kritis atau Evaluatif
    Perananan kurikulum untuk menilai dan memilih kebudayaan yang senantiasa berubah dan bertambah. dalam hal ini kurikulum turut aktif dalam kontrol sosial dan memberi penekanan pada unsur berpikir kritis. Nilai-nilai sosial yang tidak sesuai lagi di masa mendatang dihilangkan, serta diadakan modifikasi dan perbaikan. Dengan demikian, kurikulum harus merupakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu.
  3. Peranan Kreatif
    Yakni kurikulum dapat menciptakan dan menyususn suatu hal yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masa sekarang dan masa mendatang. Untuk membantu setiap individu dalam mengembangkan semua potensi yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, kemampuan, dan keterampilan yang baru, yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Fungsi Kurikulum

Di bawah ini adalah beberapa fungsi kurikulum, yaitu sebagai berikut:

  1. Fungsi Penyesuaian
    Setiap individu harus mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya secara menyeluruh karena lingkungan sendiri bersifat berubah dan dinamis. Disinilah letak fungsi kurikulum sebagai alat pendidikan, sehingga individu bersifat well-adjusted.
  2. Fungsi Integrasi
    Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Karena individu merupakan bagian dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.
  3. Fungsi Diferensiasi
    Pada dasarnya, diferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dan kreatif, sehingga akan mendorong kemajuan social dalam masyarakat.
  4. Fungsi Persiapan
    Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi tindak lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh.
  5. Fungsi Pemilihan
    Perbedaan difensiasi dan pemulihan adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengakuan atas perbedaan berarti memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minatnya. Maka kurikulum perlu disusun secara luas dan bersifat fleksibel.
  6. Fungsi Diagnostik
    Fungsi ini merupakan fungsi diagnostik kurikulum dan akan membimbing siswa untuk dapat berkembang secara optimal. Jika siswa menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya melalui proses eksplorasi.

Semua fungsi kurikulum diatas memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa, sejalan dengan arah filsafat dan tujuan kurikulum yang diharapkan oleh sekolah.

Komponen Kurikulum

Menurut Ramayulis (2008:154) dalam bukunya Ilmu pendidikan Islam, komponen kurikulum meliputi:

  1. Tujuan yang ingin dicapai, setiap tujuan minimal ada tidak domain, yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotor, setiap tujuan tidak tercapai dengan baik jika salah satu kemapuan diatas terabaikan.
  2. Isi kurikulum, berupa materi pembelajaran yang disusun ke dalam silabus, dan dalam aplikasinya dicantumkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
  3. Media (sarana dan prasarana), berfungsi sebagai sarana perantara untuk menjabarkan isi kurikulum agar lebih mudah dipahami. Media tersebut berupa benda dan bukan benda.
  4. Strategi, merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik yang digunakan. Komponen penunjang lainnya seperti : sistem administrasi, pelayanan BK, remedial dan pengayaan.
  5. Proses pembelajaran, komponen ini sangat penting, karena diharapkan terjadi perubahan sikap pada peserta didik sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum.
  6. Evaluasi, dengan penilaian dapat diketahui cara pencapaian tujuan.

Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia

Berikut ini adalah perkembangan kurikulum di Indonesia dari masa ke masa:

  1. Rencana Pelajaran 1947
    Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis. Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya.
  2. Rencana Pelajaran Terurai 1952
    Kurikulum ini lebih merinci, setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi, yakni: moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
  3. Kurikulum 1968
    Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
  4. Kurikulum 1975
    Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen. Pada masa itu dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi : petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru terlalu fokus menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
  5. Kurikulum 1984
    Kurikulum 1984 menampilkan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut juga Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
  6. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
    Kurikulum 1994 lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.
  7. Kurikulum 2004
    Kurikulum 2004 atau dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian Akhir Sekolah maupun Ujian Akhir Nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Meski baru diujicobakan di sejumlah sekolah di kota-kota di Pulau Jawa dan kota besar di luar Pulau Jawa yang telah menerapkan KBK, tetapi hasilnya tidak memuaskan.
  8. KTSP 2006
    Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Kemudian digantikan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan Karangka Dasar (KD), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengembangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan sekolah dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten (Salim, 2011).
  9. Kurikulum 2013
    Kurikulum ini adalah pengganti kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb., sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika.
  10. Kurikulum 2015
    Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2013.


Sedangkan menurut Trigonal Media, pengertian kurikulum adalah seperangkat perencanaan pendidikan yang akan diajarkan di suatu lembaga pendidikan, seperti sekolah formal atau tempat kursus.

Itulah penjelasan mengenai definisi kurikulum yang berhasil Trigonal Media rangkumkan. Jika Anda memiliki saran, koreksi, pertanyaan, atau tambahan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih.

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda merasa terbantu oleh artikel ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan supaya Tuhan selalu melimpahkan kebaikan kepada Trigonal Media sekeluarga. Terima kasih.

Anda ingin berkomentar? punya pertanyaan? atau ingin memberikan kritik dan saran?
Sampaikan semuanya di: Hubungi Kami

REFERENSI
Artikel:
1. Sudah 11 kali ganti, ini beda kurikulum.... Diakses pada tanggal: 24/02/2020
2. Berbagai sumber 
Gambar:
canva.com