--> Skip to main content

Tingkat Kemasakan Buah #2

Perkecambahan merupakan salah satu proses yang tidak bisa dilepaskan dalam pertumbuhan suatu tumbuhan. “Perkecambahan adalah permulaan munculnya pertumbuhan aktif yang menghasilkan pecahnya kulit biji dan munculnya semai“ (Amen, dalam Franklin, 1991: 291).

Tingkat kemasakan buah

Semai ditandai dengan adanya tumbuhan kecil dalam kotiledon sebagai hasil dari perkecambahan, hasil perubahan embrio pada saat perkecambahan adalah plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang dan radikula menjadi akar (Hariman, 2003).

Secara morfologi buah merupakan salah satu faktor internal yang mempunyai daya perkecambahan benih. Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan benihnya tercapai tidak mempunyai viabilitas tinggi. Bahkan pada beberapa jenis tanaman, benih yang demikian tidak akan dapat berkecambah. Diduga pada tingkatan tersebut benih tidak memiliki cadangan makanan yang cukup dan juga pembentukan embrio yang belum sempurna (Sutopo, 2002: 26).

Menurut Hartman dan Kester (1986:15) bahwa biasanya tanaman yang telah mencapai tingkat kemasakan yang maksimal tidak akan mempengaruhi benih, walaupun dalam keadaan kering, tidak akan terjadi kekisutan pada benih. Benih yang dipanen sebelum tercapai tingkat kemasakan buah yang maksimal atau belum masak, embrio tidak cukup masak, maka perkecambahan biji menjadi lemah, mengerut tidak berkualitas dan pendek daya hidupnya.

Tingkat kemasakan buah dibagi dalam tiga kelompok yaitu mature green, red ripe dan over ripe (Sutopo, 2002: 29). Untuk menentukan waktu panen atau tingkat kemasakan buah pada saat diambil, dilakukan dengan cara  menghitung jumlah hari setelah tanam sampai menghasilkan buah atau pada tingkat kemasakan buah yang ditentukan. Berdasarkan jumlah harinya maka tingkat kemasakan buah adalah sebagai berikut : Mature green (± 75 hari  setelah tanam), Red ripe (± 80 hari  setelah tanam), dan Over ripe (± 85 hari  setelah tanam).

 

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang pembahasan ini, silakan baca buku atau sumber informasi yang ada di bagian referensi. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
1. Franklin, F. Gardner. (1991). Fisiologi Tanaman Budidaya (Terjemahan Sri Andani). Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia (UII Press).
2. Hariman, R. (2003). Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Pertumbuhan Panjang Hipokotil Pada Perkecambahan Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.), Skripsi. UNIGAL Ciamis.
3. Hartman dan Koster. (1986). Plant Propagation Principles and Practice. 4th Edition. New York: Prentice Hall of India Private Limited.
4. Sutopo, Lita. (2002). Tehnologi Benih. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Gambar:
Dokumen pribadi