--> Skip to main content

Pengertian Sikap dan Penjelasan Lengkapnya

Pengertian sikap menurut Noeng Muhadjir (1984: 96) adalah afek seseorang terhadap suatu obyek tertentu. Untuk lebih jelasnya, silakan simak beberapa definisi sikap lainnya berikut ini.

Pengertian Sikap dan Penjelasan Lengkapnya

1. Krech dan Kruichfield

Krech dan Kruichfield dalam Adris Syukur (1986: 20-21) mengemukakan bahwa:

Sikap merupakan suatu motivasi, emosi, persepsi serta kognifikasi yang secara terus menerus dalam hubungannya dengan beberapa aspek dunia kehidupan individu.

2. Santoso S. Hadidjojo

Santoso S. Hadidjojo (1974: 23) menjelaskan bahwa:

Sikap diidentifikasikan sebagai pengatur proses-proses psikologis seseorang yang memberikan predisposisi padanya untuk merespons dengan cara tertentu terhadap suatu obyek atau situasi.

Selain itu, Santoso (1974: 24) juga memberikan pendapat lainnya, yaitu:

Sikap pada umumnya diidentifikasikan sebagai pengatur predisposisi padanya untuk merespons dengan cara-cara tertentu terhadap suatu obyek tertentu yang diperlukan adanya pengetahuan serta berbagai informasi dan identifikasi dari obyek tertentu

3. Fantino

Pendapat Fantino yang dikutip oleh Sukirno (1989:37) mengemukakan bahwa:

sikap adalah kecenderungan mengorganisir pikiran, perasaan dan merespons terhadap beberapa aspek dan lingkungan sosial reaksi untuk memberi penilaian terhadap obyek sosial.

4. Kiels, Collins, dan Miller

Kiels, Collins, dan Miller yang dikutip oleh Fish Bein dalam Syukur (1986: 20) mengemukakan bahwa:

sikap merupakan predisposisi dipelajari untuk merespons secara konsisten terhadap suatu obyek.

5. Gerungan

Gerungan (1980:151) mengemukakan pemikirannya bahwa:

sikap merupakan kecenderungan yang relatif stabil untuk mereaksi suatu obyek, yang bersifat positif, netral dan negatif yang melibatkan suatu pengertian, kepercayaan emosi, motivasi dan kebiasaan.

6. Noeng Muhadjir

Noeng Muhadjir menjelaskan dengan gamblang bahwa:

sikap merupakan ekspresi tertentu dan mempunyai rentangan dari tidak suka (unvaforable) sampai suka (vaforable). Sikap tidak suka menunjukkan suatu kecenderungan untuk berbuat ke arah yang negatif atau menjauh terhadap obyek. Sedangkan sikap suka atau positif ditandai dengan penghargaan, penilaian positif, kesukaan persetujuan serta keinginan bertindak sesuai obyek. Hal ini dapat terjadi karena respons yang diterima sesuai dengan apa yang diinginkannya.


Batasan Sikap

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa sikap adalah predisposisi atau tendensi yang berarti terdapat suatu kecenderungan serta kesediaan yang dapat diduga tingkah laku apa yang akan terjadi apabila telah diketahui sikapnya.

Dengan sendirinya tindakan yang diawali melalui suatu proses yang cukup kompleks dan sebagai suatu titik awal untuk menerima stimulus adalah melalui alat indra seperti penglihatan, pendengaran, alat raba, rasa, dan bau. Dalam diri individu sendiri terdapat suatu dinamika berupa kebutuhan, perasaan, dorongan, perhatian, dan lain-lain. Proses ini sifatnya masih tertutup dalam jalan pembentukan sikap, sehingga melalui suatu batas tertentu akan muncul suatu tindakan yang bersifat terbuka, dan inilah yang dinamakan tingkah laku.

Sehingga dapat dijelaskan bahwa sikap merupakan suatu kesiapan untuk beraksi terhadap obyek sekitar sebagai suatu penghayatan terhadap obyek di sekitarnya. Dengan demikian jelaslah bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan atau bentuk aktivitas tertentu. Tetapi sikap masih berupa predisposisi dari tingkah laku, karena berkaitan dengan psikis perasaan, kesiapan, serta kecenderungan untuk merespons suatu obyek. Dengan demikian sikap dapat diinterpretasikan sebagai cermin apa yang ada dalam diri seseorang terhadap obyek, oleh karena itu sikap tidak dapat diamati secara langsung.

Meskipun demikian, menurut Sugi Rahayu (1988:40) bahwa sikap seseorang terhadap suatu obyek tertentu dapat diketahui dengan cara-cara tertentu, cara yang biasa digunakan untuk mengungkapkan sikap seseorang terhadap obyek adalah dengan memakai tes dan biasanya berbentuk instrumen kuesioner skala tingkat (rating scale) dan sejenisnya. Hal ini dilakukan berdasarkan indikator yang ada pada sikap serta menggunakan asumsi yang dianggap perlu.

Mann dikutip oleh Azwar (1988: 23-24) menjabarkan pendapatnya mengenai kaitannya sikap seseorang terhadap obyek, sekali pun sikap diasumsikan merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap adalah tindakan nyata sering jauh berbeda. Hal ini karena tindakan nyata tidak hanya ditentukan dari faktor eksternal semata, tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal lainnya. Di antaranya berbagai faktor yang mempengaruhi sikap seseorang adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu.

Ciri-Ciri Sikap

Menurut M. Salahuddin (1990: 99) ciri-ciri sikap adalah sebagai berikut:

  1. sikap sebagai hasil dari belajar,
  2. sikap mempunyai unsur yang bersifat perseptual atau afektif, dan
  3. sikap dapat mempengaruhi kegiatan.

Jadi bisa disimpulkan bahwa sikap terbentuk melalui hasil belajar atau memperhatikan terhadap obyek sikap sehingga dapat menimbulkan sesuatu pengalaman yang berkaitan dengan adanya respons terhadap obyek tertentu.

Dua orang ahli yaitu IL. Pasaribu dan B. Simanjuntak (1984: 73) mengemukakan terdapat ciri-ciri terbentuknya sikap yang secara umum adalah sebagai berikut:

  • Sikap bukan dibawa orang sejak lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungannya dengan obyek.
  • Sikap itu berubah-ubah oleh karena itu sikap dapat dipelajari oleh orang lain atau masyarakat atau sebaliknya.
  • Sikap tidak berdiri sendiri melainkan senantiasa mengandung relasi tertentu terhadap suatu obyek.
  • Obyek sikap dapat merupakan suatu hal tertentu, tetapi dapat merupakan kumpulan dari hal-hal disebut.
  • Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan perasaan.
  • Sikap mempunyai arah tujuan, artinya bahwa efek yang membekas yang dirasakan terhadap sesuatu obyek dapat bersifat positif atau negatif

Struktur dan Komponen Sikap

Memerhatikan ciri-ciri yang ada dalam sikap tersebut, maka Saifuddin Azwar (1988: 17-18) mengemukakan struktur sikap secara umum dipandang sebagai suatu sistem yang kompleks yaitu:

  1. Komponen kognitif yaitu berisi keyakinan, ide atau konsep seseorang terhadap obyek.
  2. Komponen afektif menyangkut masalah emosional subyektif atau perasaan seseorang terhadap suatu obyek.
  3. Komponen konatif yang menunjukkan perilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihayatinya.

Pendapat senada dikemukakan oleh Gorman dalam Sugi Rahayu (1988: 42) bahwa sikap memiliki tiga komponen pokok yaitu:

  1. Kognitif
    Komponen kognitif berhubungan dengan atau melibatkan kognisi
  2. Afektif
    Komponen afektif berhubungan dengan perasaan-perasaan seseorang yang bersifat senang, setuju terhadap obyek tertentu.
  3. Tingkah laku
    Komponen tingkah laku ditunjukkan dalam kecenderungan dan kesiapan untuk bertindak terhadap obyek dalam kaitannya dengan menolak atau menerima obyek.

Menurut Shaver yang buku karya Mar’at (1988: 21) bahwa predisposisi yang ada dalam sikap berkaitan dengan bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu mencakup komponen kognisi, afeksi dan konasi. Komponen kognisi akan menjawab pertanyaan apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. Komponen afeksi menjawab pertanyaan tentang apa yang dirasakan (senang/tidak senang) terhadap obyek.

Ketiga komponen yang ada dalam sikap yaitu kognisi afeksi dan tingkah laku tidak berdiri sendiri-sendiri. Akan tetapi menunjukkan bahwa manusia merupakan sistem yang kognitif. Ini berarti dengan apa yang dipikirkan tidak akan menyimpang dengan perasaannya. Ketiga aspek saling berinteraksi, aspek kognitif sebagai aspek penggerak dari hasil informasi yang diterimanya. Sehingga menentukan aspek perasaannya dan aspek kecenderungan berbuat.

Teori Penerimaan Penolakan

Kaitannya dengan sikap terhadap suatu obyek, maka dikenal adanya teori penerimaan penolakan yang dikembangkan oleh Sheriff dan Hovland (Mar’at. 1988: 31) yang menyatakan,

Pada dasarnya setiap stimulus mempunyai nilai kuantitatif dan mempunyai dimensi tersendiri berdasarkan ketertarikan individu tersebut. Kesesuaian tersebut akan dapat menentukan sesuatu keputusan. Keputusan dapat berupa penolakan atau penerimaan. Penerimaan adalah perubahan sikap menuju pola tujuan sikap yang diharapkan dan penolakan adalah suatu perubahan sikap melalui keputusan yang menjauhi asal

Seseorang yang akan mengambil keputusan akan berada dalam area menerima dan area menolak sebagai dua kutub yang saling bertentangan dengan ruang gerak pengambilan keputusan.

Sehubungan dengan sikap menerima dan menolok, maka Krech dan Krufachfield (Slamet Widodo, 1989: 76) memberikan kesimpulan dari penelitiannya, bahwa sikap berfungsi sebagai persiapan atau pendahulu tingkah laku individu. Oleh karena itu dengan sikap positif atau menerima maka akan berusaha mencapai apa yang diinginkannya, dengan sikap negatif akan menghindari apa-apa yang tidak menyenangkan. Hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan bahwa untuk membangkitkan minat terhadap suatu sikap yang positif terhadap obyek, di samping syarat-syarat lain yang harus dipenuhi.


Dari sekian banyak pengertian, batasan, ciri-ciri tentang sikap maka dapat ditarik disimpulkan sebagai berikut:

  1. Sikap selalu diarahkan atau tertuju pada suatu obyek, berupa benda, orang, situasi, pekerjaan, aktivitas organisasi, nilai-nilai, dan sebagainya.
  2. Sikap dapat bersifat umum, artinya dihayati banyak orang dan bersifat khusus artinya dihayati oleh seorang.
  3. Sikap disadari atau tidak disadari.
  4. Sikap bukan bawaan lahir, melainkan hasil dari pengalaman belajar individu selama perkembangannya. Sikap terbentuk melalui pelajaran formal maupun non formal, juga adanya pengaruh dari luar diri individu.
  5. Sikap dapat berubah-ubah.
  6. Sikap berbeda dengan pengetahuan, sebab sikap melibatkan segi motivasi dan afektif.

Sedangkan menurut Trigonal Media pengertian sikap adalah,

bentuk respons dalam bentuk psikis terhadap suatu objek ataupun keadaan yang didapat dari pengalaman dalam mengatasi masalah dalam kehidupan.

Itulah penjelasan mengenai apa itu sikap yang berhasil Trigonal Media rangkumkan.

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda merasa terbantu oleh artikel ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan supaya Tuhan selalu melimpahkan kebaikan kepada Trigonal Media sekeluarga. Terima kasih.

Anda ingin berkomentar? punya pertanyaan? atau ingin memberikan kritik dan saran?
Kontak kami di sini: Hubungi Kami

REFERENSI
Artikel: 
Berbagai sumber 
Gambar:
canva.com