--> Skip to main content

Polisemi

Polisemi berasal dari kata poly yang berarti banyak dan sema yang berarti tanda. Polisemi sangat dekat istilah lain, yaitu homonimi. Berikut uraian singkat dari Trigonal Media mengenai pembahasan tersebut.

Polisemi

Pengertian polisemi

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI menjelaskan bahwa:

Polisemi adalah bentuk bahasa (kata, frasa, dan sebagainya) yang mempunyai makna lebih dari satu.

2. Dra. Suparni

Dalam bukunya, Suparni (1988: 97) mengungkapkan bahwa:

polisemi adalah makna yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu aluran arti.

3. Gorys Keraf

Gorys Keraf (2009: 36) memberikan penjelasan bahwa:

polisemi adalah satu bentuk mempunyai beberapa makna.

4. Drs. Aminuddin, MPd

Aminuddin (2008: 123) memberikan pandangannya bahwa:

polisemi adalah sebuah bentuk kebahasaan yang mengandung makna berbeda-beda.

Perbedaan polisemi dan homonimi

Terkadang sangat sulit untuk menentukan apakah suatu kata itu merupakan polisemi atau homonimi. Untuk mempermudah untuk mengenalinya, silakan simak panduan cara membedakan polisemi dan homonimi berikut ini:

1. Polisemi

  • Polisemi merupakan satu kata dengan arti ganda.
  • Arti kata polisemi antara yang satu dengan yang lain masih dalam satu alur atau masih memiliki benang merah.
  • Polisemi merupakan perkembangan makna suatu kata.
  • Keanekaragaman arti tersebut disebabkan oleh pergeseran makna atau perbedaan tafsiran karena konteks atau situasi kalimat.

Contoh:

1) Kepala orang itu sangat besar.
2) Valencia merupakan kepala di perusahaan ini.

Pada contoh di atas, terdapat benang merah antara contoh 1 dengan contoh 2.

Pada contoh 1,

kepala merupakan bagian paling atas pada anggota badan dan tempat berbagai keputusan dipikirkan.

Begitu pula pada contoh 2,

kepala perusahaan berarti pimpinan perusahaan dengan posisi hierarki berada pada bagian atas dan juga berbagai keputusan diputuskan serta dipertimbangkan olehnya.

2. Homonimi

  • Homonimi merupakan dua kata atau lebih yang memiliki bentuk yang sama.
  • Homonimi memiliki arti yang benar-benar berbeda karena berasal dari sumber yang berbeda pula.

Untuk memahami lebih jauh mengenai homonimi, silakan kunjungi: Homonimi (Pengertian dan Penjelasan) 


Sebagai panduan sederhana:

Jika kata yang dinilai memiliki makna yang benar-benar berbeda dan tidak memiliki benang merah, maka kata tersebut adalah homonimi. Tetapi, jika kata tersebut memiliki pertalian makna, maka kata tersebut digolongkan sebagai polisemi.

Unsur penyebab polisemi

Stephen Ullman dalam Aminuddin (2008: 123-124) menjabarkan beberapa unsur penyebab polisemi sebagai berikut:

  1. Spesifikasi dalam ilmu pengetahuan.
    Contoh: Kata bentuk dalam ilmu arsitektur dan seni rupa memiliki makan yang berbeda.
  2. Spesialisasi pemakaian dalam kehidupan sosial-masyarakat yang beraneka ragam.
    Contoh: Kata jalan menurut supir berarti bekerja, sedangkan menurut anak muda berarti berangkat.
  3. Pemakaian dalam gaya bahasa.
  4. Dalam tuturan lisan maupun penulisan yang salah.


Itulah penjelasan mengenai polisemi yang berhasil Trigonal Media rangkumkan. Jika Anda memiliki saran, koreksi, pertanyaan, atau tambahan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih.

Artikel ini dibuat hanya untuk informasi semata. Jika Anda merasa terbantu oleh artikel ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan supaya Tuhan selalu melimpahkan kebaikan kepada Trigonal Media sekeluarga. Terima kasih.

REFERENSI
Artikel:
1. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III
2. Dra. Suparni. (1988). Penuntun Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Ganeca Exact
3. Gorys Keraf. (2009). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
4. Drs. Aminuddin, MPd. (2008). Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algensindo 
Gambar:
Dokumen pribadi